Petrus Kasihiw: Covid-19 Musuh yang Harus Dilawan, Covid-19 Bukan Teman

0
106
Bupati Teluk Bintuni Petrus Kasihiw. (Foto: Aufrida/klikpapua)
MANOKWARI,KLIKPAPUA.COM– Wabah Pandemi Covid-19 merupakan musuh, musuh manusia yang harus diperangi, tidak bisa dianggap  biasa-biasa. “Covid-19 bukan teman, bukan juga datang  untuk mempengaruhi kita lalu pergi lagi, penularannya pun tidak nampak,” kata Bupati Teluk Bintuni Petrus Kasihiw saat ditemui wartawan di Taman Kota Kantor Bupati, belum lama ini.
Dalam menghadapi Covid-19, langkah pertama yang Bintuni lakukan adalah  membangun komitmen bersama-sama dengan Forkopimda serta seluruh perangkat, untuk sepakat bahwa Covid-19 adalah musuh. “Sehingga kita membangun 2 kelompok kerja  yang pertama Tim Satgas Covid-19 untuk menagani Covid-9 dan satu tim lagi penanganan dampak ekonomi, sehingga tidak adanya tumpeng tidih.
Dua tim ini bekerja dengan membangun koordinasi dengan instansi dan OPD terkait. Tim Satgas menangani penyakit atau virus ini sehingga dia berkolaborasi dengan rumah sakit, kesehatan dan dinas terkait serta  Tim Dampak berkolaborasi dengan Dinas Sosial, badan Penanggulangan Bencana Daerah dan OPD terkait,” ungkapnya.
Dalam mengatasi  wabah Covid-19, strategi yang dilakukan yakni harus harus cepat.  Harus cepat  mengenal dan mengidentifikasi  virus dengan cara medis, dengan memutuskan arus keluar masuk Bintuni untuk sementara.  “Kita harus cepat  untuk membangun komunikasi dengan pihak lain dengan mengambil langkah prefentif  dengan melakukan  skrining terhadap semua orang yang keluar masuk Bintuni  dengan melakukan rapid test,” tuturnya.
Secara struktur di Kabupaten Bintuni juga dibentuk tim ditingkat distrik, terutama di daerah yang dianggap rawan. “Secara  sistematis saya memerintahkan Dinas Kesehatan dan rumah sakit  untuk membentuk tugas secara struktur, puskesmas bertanggung jawab terhadap pelayanan pasien  OTG, ODP yang sedang di karantina, untuk rumah sakit  tetap melayani pasien yang sudah PDP, pasien OTG dan ODP tetap dilayani dan  dipantau oleh tim gugus tugas,” ucapnya.
Petrus Kasihiw optimis jika melayani pasien positif, maka mereka harus sembuh, walaupun sampai hari ini belum ada obatnya. “Saya optimis karena mereka semua adalah  bagian dari keluarga kita, sehingga kita melakukan upayah preventif kuratif atau pengobatan dengan cara jemput bola bekerja dimana mereka bersedia untuk di karantina mandiri, semua itu kita bekerjasama dengan kepala kampung, aparat kampung, bhabinkamtibmas, Babinsa,” jelasnya.
Menurut Bupati dengan  keadaan yang cukup memprihatinkan, Pemkab Teluk Bintuni memberanikan diri untuk membeli alat PCR  agar bisa  dengan cepat melakukan pemeriksaan swab tanpa harus melakukan pengiriman ke Jakarta maupun Makassar. “Direktur rumah sakit dengan memiliki pengalaman akhirnya bisa mengoperasikan alat PCR tersebut dan ditransfer ilmunya kepada yang lainnya, dalam kondisi terdesak saya sampaikan semua harus belajar tidak tunggu-tunggu dan akhirnya mereka bisa mendapatkan persetujuan dari Kemenkes yang juga bisa memberikan ya semacam lisensi bahwa kita mampu kita bisa menentukan hasil pemeriksaan positif atau tidak dengan alat yang sama,” pungkasnya.(aa/bm)
Editor: BUSTAM
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.