Dishut Papua Barat Bersama GGGI Gelar Pelatihan Membangun Bisnis Hasil Hutan Bukan Kayu

0
Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat bersama Global Green Growth Institute (GGGI) menyelenggarakan pelatihan dengan tema Membangun Bisnis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang Menguntungkan, yang berlangsung pada 7-10 Juni 2022, Kota Sorong, Papua Barat. (Foto: Ist)
SORONG,KLIKPAPUA.com— Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat bersama Global Green Growth Institute (GGGI) menyelenggarakan pelatihan dengan tema Membangun Bisnis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang Menguntungkan, yang berlangsung pada 7-10 Juni 2022, Kota Sorong, Papua Barat.
 Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat semangat kewirausahaan dan pemahaman langkah-langkah produktif bisnis HHBK 25 peserta yang berasal dari kelompok tani hutan di lingkup Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Unit II Sorong dan KPHP Unit XVI Fakfak.
HHBK adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budi daya yang berasal dari hutan, kecuali kayu. Pemanfaatan hutan untuk HHBK berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menahan laju deforestasi.
UU Cipta Kerja dan turunannya yaitu PP No. 23 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan menegaskan bahwa kegiatan pemanfaatan HHBK dapat dilakukan dengan multiusaha kehutanan, di mana kegiatan usaha kehutanan dapat berupa usaha pemanfaatan kawasan, usaha pemanfaatan HHBK dan atau usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan dengan tujuan untuk mengoptimalkan potensi kawasan hutan pada hutan lindung dan hutan produksi.
Ir. F. H. Runaweri, M.M. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat membuka pelatihan ini pada hari pertama, sekaligus menyampaikan, kegiatan pelatihan ini penting untuk mendorong kesejahteraan Orang Asli Papua (OAP) agar lebih mahir dalam mengelola HHBK. “Masyarakat lokal di Papua Barat sangat menyukai dan memperhatikan potensi HHBK yang sudah ada, seperti rotan, bambu, karet, minyak lawang, masohi,” katanya.
Runaweri berharap ke depannya bisa membuat demo plot untuk menjawab permasalahan utama yang ada yaitu pemasaran dan penguatan kapasitas masyarakat agar mahir mengelola HHBK.
Sebagian besar peserta adalah petani pala yang berasal dari Fakfak. Pala Fakfak (Myristica argantea warb) atau yang biasa disebut Pala Negeri umumnya dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Masyarakat Fakfak menyebut pala dengan istilah henggi. Kabupaten Fakfak merupakan salah satu daerah penghasil pala utama di Provinsi Papua Barat.
KPH sebagai pembina masyarakat atau Kelompok Tani Hutan berperan penting dalam mengembangkan manajemen yang baik dan rencana bisnis berdasarkan komoditas HHBK dan jasa lingkungan, seperti pala, madu, teh gaharu, minyak lawang, teh sarang semut, dan sebagainya.
Pengelola KPH dapat mempromosikan solusi dan konsep inovatif untuk melibatkan masyarakat dan sektor swasta dalam menyusun rantai nilai yang berkelanjutan bagi produk kayu dan HHBK, termasuk produksi, pengolahan, dan pemasaran.
Salah satu peserta, Martha Woy, Ketua PPHD Warpatumber mengaku senang mengikuti pelatihan tersebut, karena mendapat banyak pengetahuan baru yang bisa dibagi kepada petani-petani di kampung, dengan harapan bisa memasarkan pala dari Fakfak dengan lebih baik lagi.
Dalam pelatihan ini, para peserta berkesempatan mempelajari tentang kebijakan dan arah pengembangan usaha HHBK, komoditas unggulan daerah dan prospeknya, akses permodalan, opsi pendanaan, pemasaran, perizinan, bisnis hijau, budidaya rendah karbon, jejaring bisnis, pengelolaan keuangan, dan mengembangkan konsep bisnis model HHBK.
Pada kesempatan yang sama, Knowledge and Capacity Development Lead GGGI Indonesia, Mariski Nirwan, juga menyampaikan, GGGI dalam kerangka Proyek Lanskap Berkelanjutan memiliki komitmen mendukung Pemerintah Provinsi Papua Barat untuk menyukseskan pembangunan berwawasan lingkungan dan mengkonsolidasikan upaya untuk mencapai pertumbuhan hijau, salah satunya dengan mendukung usaha-usaha masyarakat yang bukan berbasis kayu atau HHBK.
Potensi HHBK di Indonesia saat ini tercatat setidaknya sebesar 66 juta ton. Produksinya di tahun 2020 baru sebesar 558 ribu ton dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 4,2 miliar. Tiga jenis HHBK dengan produksi tertinggi berasal dari HHBK kelompok getah sebanyak 126 ribu ton, kelompok biji-bijian sebanyak 114 ribu ton, dan kelompok daun/akar sebesar 63 ribu ton. Beberapa komoditi HHBK yang potensial dikembangkan antara lain daun kayu putih, kopi, madu, getah pinus, getah karet, bambu, jagung, sereh wangi, rumput gajah, gula aren, gamal, rotan, aren, cengkeh, damar, gaharu, getah, kulit kayu, kemenyan, kemiri, kenari, sagu, dan lain sebagainya.
Ke depannya, kata Mariski Nirwan, HHBK akan menjadi arus utama di sektor industri kehutanan Indonesia yang juga dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
HHBK juga memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sebagai daya tarik bagi pembangunan ekonomi rakyat karena memiliki sifat padat karya dan dapat menciptakan industri kreatif rakyat terutama bagi mereka yang berada di sekitar hutan. (rls)

SPACE
SPACE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.