Kurang Perhatian Menjadi Pemicu Anak-anak Kecandu Lem Aibon

0
115
Pemerintah daerah harus serius menangani persoalan lem Aibon/Fox. (Foto: Aufrida/klikpapua)
MANOKWARI,KLIKPAPUA.COM– Kurangnya perhatian keluarga, pergaulan, serta faktor lingkungan ditengarai menjadi pemicu banyak anak-anak dibawah umur menjadi menghisap lem Aibon maupun Fox.
Beberapa anak yang temui klikpapua.com disamping sebuah toko di Sanggeng, Kabupaten Manokwari mengungkapkan, mereka berasal dari keluarga yang sudah berpisah. Mereka tinggal hanya dengan saudara. “Kami tiap hari seperti ini, hanya isap Aibon, rata-rata disini sudah putus sekolah semuanya. Kalau mau dapat Aibon kami kasih uang ke orang dewasa, baru tolong belikan kami lem, dengan imbalan kami berikan mereka uang juga untuk beli rokok,” ungkap salah seorang anak.
Saat ditanya apakah ada pendampingan dari pemerintah kepada mereka. Kompak mereka menjawab, beberapa kali ada kegiatan, mereka didata dan dibawa, namun setelah kegiatan mereka ditinggalkan begitu saja.“Kami ingin sembuh, ingin sekolah, sehingga kami minta kepada pemerintah untuk perhatikan kami. Kami senang sekali kalau kami ditampung di satu tempat untuk direhabilitasi,” ujar anak lainnya. Mereka tanpa takut atau malu, menyampaikan kalau mereka memang penghisap lem.
Kepala Ombudsman RI (ORI) Perwakilan Papua Barat, Musa Yosep Sombuk  ketika ditemui klikpapua.com mengatakan, apabila keluarga baik, maka anak akan baik. Selain itu ada faktor lain, seperti lingkungan, tempat tinggal, tempat belajar, masalah ekonomi, persoalan sosial dan juga perubahan budaya.  “Dulu kan anak dalam masalah kita tolong, sekarang orang melihat sudah tidak penting, marga boleh sama, tapi bagaimana sampai ke titik memyelamatkan anak, itu jadi berkurang atau macam hilang,” tuturnya.
Musa Yosep Sombuk, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Papua Barat. (Foto: Aufrida/klikpapua)
Selama ini yang mengurusi persoalan itu, adalah lembaga sosial dan BKKBN. Apabila lembaga sosial dan BKKBN sudah tidak mampu lagi maka mau tidak mau pemerintah harus mengambil alih anak-anak itu.
ORI Papua Barat mempertanyakan seberapa jauh pemerintah peduli dengan program-program anak? “Ini persoalan, kalau penghisap Aibon ini bukan hanya di wilayah kita saja, saya ambil contoh seperti di Australia  kebanyakan orang Aborijin  juga penghisap Aibon,  setelah dilakukan teliti indeks orang Aborijin  meninggal lebih cepat 15 tahun dibanding orang kulit putih,” ungkapnya.
Karena menurutnya,anak-anak yang sudah jadi pecandu, akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan lem tersebut. “Negara harus berusaha melayani mereka dengan cara direhabilitasi, karena sudah masuk dalam ketergantungan,” ujarnya.
Menurut ORI, masalah sosial ini harus dikendalikan, karena jika tidak dikendalikan maka generasi muda berikut bisa hancur. “Karena  sekarang ini bukan lagi anak-anak melainkan orangtua juga ada yang tarik lem Aibon baik perempuan atau laki-laki.”
Musa berharap BKKBN menjalankan program secara berkelanjutan “Jangan ada proyek atau ada uang baru turun.  Tidak bisa kerja kalau ada uang baru ada kegiatan,  tidak akan berdampak apa-apa,  dan disisi lain perlu adanya pengawasan terhadap penjualan lem,  karena  banyak seribu cara untuk mereka dapatkan lem,” tutur Musa.
Perlu adanya kerjasama  dengan pihak-pihak yang selama ini sudah berusaha menolong anak, seperti, gereja, masjid, panti asuhan, LSM, Ormas, OKP. “Karena mereka sudah punya cukup skill atau network (jaringan) kepada pelaku Aibon,” pungkasnya.(aa)
Editor: BUSTAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.