DP3AKB Teluk Bintuni Gelar Kegiatan Penguatan Lembaga Anak

0
27
DP3AKB Teluk Bintuni Gelar Kegiatan Penguatan Lembaga Anak

BINTUNI,KLIKPAPUA.com— Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Dan KB (DP3AKB) Kabupaten Teluk Bintuni, Kamis (18/11/2021) menggelar kegiatan penguatan dan pengembangan lembaga penyedia layanan peningkatan kualitas hidup anak bagi Pengurus Perlindungan Anak Terpadu Baerbasis Masyarakat (PATBM) di Gedung Women World Center (WCC) Kota Bintuni.

Dibuka Sekretaris DP3AKB Kace B Satya, kegiatan ini menghadirkan fasilitator PATBM Provinsi Papua Barat Yuli Numberi untuk memberikan sosialisasi kepada pengurus PATBM di tingkat distrik dan kampung di Teluk Bintuni.

Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Teluk Bintuni Natalia Okrofa mengatakan, persoalan anak menjadi tanggungjawab bersama baik bapak, ibu dan semua elemen masyarakat, petugas medis guru aparat keamanan dan aparat kampung, DP3AKB terus berupaya untuk menguatkan kapasitas PATBM yang terdiri dari pemerintah kampung/distrik, tokoh adat, agama tokoh masyarakat, perempuan, pemuda, guru, aparat keamanan dan kesehatan. Peran serta dari seluruh elemen ini penting untuk membantu masyarakat menyelesaikan permasalah kekerasan terhadap anak.

“Kasus anak di Bintuni cukup tinggi, kasat mata tidak ada tapi yang kami dampingi cukup tinggi, itu yang terlapor tapi masih banyak yang belum terlapor, dengan kondisi ini, sehingga kita dituntut untuk telibat secara langsung menyelesaikan masalah ini,” kata Okrofa.

Sementara itu, Sekretaris DP3AKB Kace B Satya ketika membacakan sambutan Bupati mengatakan, perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat (PATBM) adalah sebuah gerakan dari jaringan atau kelompok warga pada tingkat masyarakat yang bekerja secara terkoordinasi untuk mencapai tujuan perlindungan anak.

PATBM merupakan inisiatif masyarakat sebagai ujung tombak untuk melakukan upaya-upaya pencegahan dengan membangun kesadaran masyarakat agar terjadi perubahan pemahaman, sikap dan perilaku yang memberikan perlindungan kepada anak.

Kace juga mengatakan, dari banyaknya kasus kekerasan yang terjadi pada anak menunjukan bahwa keluarga, lingkungan sekitar sekolah dan masyarakat belum mampu memberikan perlindungan yang baik kepada anak.

Dengan fakta yang ada, melalui momen ini Kace mengajak seluruh elemen yang ada di Teluk Bintuni untuk sama-sama menjaga anak-anak di Teluk Bintuni yang berusia 0 bulan  sampai 18 tahun, agar terhindar dari kekerasan maupun eksploitasi anak.

“Saya mengutip beberapa bahasa dari 7 suku di Teluk Bintuni yaitu bahasa wamesa mendama tambe jaga tane marariane sya, atau bahasa sough jin mahidobo mamihir nu gedhe sisar matiti, yang artinya mari kita jaga anak-anak sisar matiti,” pungkasnya.(dr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.