NABIRE,KLIKPAPUA.com – Anggota MPR RI Soedeson Tandra menggelar kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Wanggar, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, Minggu (21/6/2026).
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), edukasi kebangsaan dinilai perlu bertransformasi secara kreatif untuk membentuk karakter generasi muda.
Dalam pemaparannya, Soedeson mengingatkan para peserta agar bersikap selektif dan kritis terhadap derasnya arus informasi di media sosial. Menurutnya, lingkungan digital saat ini menuntut pemuda dan remaja tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan memilah serta memverifikasi informasi.

“Pilihlah informasi yang bermanfaat, baik untuk pendidikan maupun masa depan. Tetap taat terhadap norma agama dan semua aturan yang berlaku, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Hal ini penting agar pemuda dan remaja di Kabupaten Nabire bisa menjadi generasi yang berkualitas, harapan keluarga, bangsa, dan negara,” ujar Legislator dapil Papua Tengah tersebut.
Ia menambahkan bahwa wawasan kebangsaan merupakan pandangan yang menanamkan rasa cinta tanah air, menjunjung tinggi persatuan, serta menumbuhkan kebersamaan sesama anak bangsa. “Melalui pemahaman yang kuat, generasi muda diharapkan mampu bersaing secara global tanpa harus kehilangan akar budaya dan jati diri mereka, ” kata Politikus Fraksi Partai Golkar tersebut.
Soedeson yang juga Anggota Komisi III DPR RI tersebut menambahkan kegiatan sosialisasi ini bertujuan memberikan pengetahuan mendalam mengenai Empat Pilar Kebangsaan, yaitu:Pancasila, UUD NRI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan .Bhinneka Tunggal Ika.
Soedeson berharap para peserta dapat menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari, serta memahami perbedaan suku, agama, dan adat istiadat sebagai kekuatan untuk membangun bangsa.
Saat ini lanjut Soedeson, MPR RI juga tengah mengevaluasi efektivitas metode sosialisasi agar penyebarluasan informasi kebangsaan tak lagi monoton menggunakan metode tradisional seperti pembagian buku fisik, melainkan bertransformasi memanfaatkan media nasional dan platform digital agar lebih relevan dengan zaman.(rls/red)





















