dr.Arnold: Satuan Pendidikan Harus Siap Sebelum Terapkan Sekolah Tatap Muka

0
63
Juru Bicara Penanganan Covid-19 Papua Barat, dr.Arnoldus Tiniap
MANOKWARI,KLIKPAPUA.com— Satuan pendidikan di Papua Barat harus benar-benar mempersiapkan diri sebelum menerapkan sekolah tatap muka pada Januari 2021 mendatang. “Saat ini penyebaran Covid-19 secara nasional masih mengkhawatirkan, termasuk kita di Papua Barat. Kita harus benar-benar siap jika ingin menerapkan sekolah tatap muka,” ucap Juru Bicara Penanganan Covid-19 Papua Barat, dr.Arnoldus Tiniap, Jumat (11/12/2020).
Menurut dr.Arnold biasa ia disapa, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga kini belum mengeluarkan rekomendasi tentang pembukaan kembali aktivitas pendidikan. Sebab kondisinya belum memungkinkan, karena ada potensi lonjakan kasus yang dapat terjadi pada Desember 2020. “Ada banyak momentum di bulan Desember dimana pada situasi tersebut lonjakan kasus Covid-19 sangat mungkin terjadi. Misalnya sekarang, kita sedang ada dalam situasi pesta demokrasi, dalam waktu dekat ada perayaan Natal dan cuti bersama,” sebut Arnold.
Jika sekolah tatap muka akan diterapkan, menurut dr.Arnold, wali murid atau komite sekolah harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Disisi lain tata laksana serta sarana prasarana protokol kesehatan harus benar-benar siap. “Karena kalau terjadi apa-apa sama anak-anak nanti orang tua yang sedih dan repot. Kalau anak sakit karena terpapar Covid-19 orangtua mana yang tidak susah,” ujarnya.
Dia juga berpandangan bahwa belum semua siswa pada tingkatan pendidikan mampu menerapkan protokol kesehatan secara baik. Hal ini harus menjadi pertimbangan baik Dinas Pendidikan maupun sekolah.  “Anak-anak sekolah dasar tentu masih kesulitan untuk benar-benar menerapkan protokol, begitu pula SMP. Saat di dalam kelas mungkin bisa diatur, tapi saat jam istirahat hal itu sangat sulit karena mereka belum punya kesadaran yang baik tentang bahaya Covid-19,” sebut drArnold.
Sesuai peta penyebaran Covid-19 lanjut dr.Arnold, seluruh daerah di Papua Barat saat ini memiliki kerentanan yang sama. Temuan kasus baru masih terus terjadi. “Kalau terpaksa harus dilaksanakan sekolah tatap muka, anak-anak jangan masuk secara serentak. Harus diatur, disiapkan sift agar mereka masuk bergiliran,” demikian Arnold Tiniap.(aa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.