Tekad Presiden Prabowo dan cara IMIP dukung ekosistem EV nasional

0
Pekerja berjalan keluar usai bekerja di kawasan industri berbasis nikel Indonesia Morowali Industrial Park atau PT IMIP di Kecamatan Bahodopi, Sulawesi Tengah, Jumat (26/1/2024). . ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/aww.
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto tampak fokus saat mendengarkan pemaparan dari pelaku industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dalam acara peluncuran motor listrik nasional di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 13 Agustus 2026.
Meskipun kita tidak bisa mendengar apa yang disampaikan kepada Presiden ataupun mengetahui secara langsung tanggapannya terhadap pemaparan tersebut, setidaknya kita dapat melihat bahwa kepala negara tampak bangga dan bahagia dengan perkembangan ekosistem kendaraan listrik.
Hal itu salah satunya terlihat dari senyum Presiden dalam acara tersebut serta antusiasmenya saat berbincang dengan para pelaku industri kendaraan listrik.
“Kita bangga hari ini ya, dan kita akan melihat perkembangan dalam waktu yang akan datang akan lebih cepat lagi,” kata Presiden saat memberikan sambutan setelah mendengarkan pemaparan para pelaku industri.
Kebanggaan Presiden terhadap perkembangan ekosistem kendaraan listrik ternyata tidak berhenti sampai di situ.
Presiden juga mengungkapkan kebanggaannya karena ekosistem untuk mendukung produksi mobil listrik nasional tengah dibangun.
“Kalau tidak salah, tidak jauh dari sini. Perjalanan ke Subang di kilometer 84 ya. Ada kompleks besar, kita lagi bangun. Mobil listrik Indonesia yang kita berharap paling lambat 2028 sudah produksi besar-besaran,” lanjut Presiden.
Tekad tersebut didorong keinginan Presiden agar kendaraan yang melintas di tanah air semakin banyak menggunakan listrik sebagai sumber energi utama. Pernyataan itu juga dilandasi keinginan kuat untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.
Terlebih, penggunaan kendaraan listrik dapat menghemat pengeluaran masyarakat. Misalnya, penghematan 50–70 persen dapat terjadi ketika seseorang menggunakan motor listrik dibandingkan dengan motor berbahan bakar bensin.
“Dengan motor dan mobil listrik, bus listrik, traktor listrik, dan sebanyak mungkin alat-alat kita menggunakan listrik sebagai energi utama, kita akan lebih aman. Kita akan lebih sejahtera,” kata Presiden.
Tekad Presiden tersebut ternyata juga mendapat dukungan dari pelaku industri di luar Kabupaten Bekasi, atau sekitar 2.400 kilometer lebih dari lokasi peluncuran motor listrik nasional.
Pelaku industri tersebut adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang berada di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. IMIP merupakan kawasan industri yang menaungi sejumlah tenant atau perusahaan penyewa yang bergerak di bidang pengolahan nikel.
Cara IMIP dukung ekosistem EV di Indonesia
Dukungan IMIP terhadap ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dibangun layaknya sebuah rumah: dimulai dari fondasi hingga akhirnya bangunan tersebut siap dihuni.
Mulanya, Bintang Delapan Group membentuk perusahaan patungan dengan Dingxin Group. Dalam konferensi pers sekitar Oktober 2009, kedua perusahaan sepakat membentuk perusahaan patungan bernama PT Sulawesi Mining Investment (SMI).
Empat tahun kemudian, atau sekitar Oktober 2013, dilakukan perjanjian investasi untuk membentuk IMIP. Perjanjian tersebut dilakukan oleh PT SMI dengan Shanghai Decent Investment Group.
Perjanjian itu ditandatangani di hadapan Susilo Bambang Yudhoyono selaku Presiden Indonesia pada saat itu dan Xi Jinping selaku Presiden China.
Kemudian, pada 29 Mei 2015, Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia menyambut gembira pembangunan smelter industri pengolahan nikel di kawasan IMIP.
Enam tahun berselang, setelah fondasi tersebut semakin kokoh dengan hadirnya klaster industri besi dan baja, IMIP kemudian membangun klaster industri yang memproduksi komponen baterai kendaraan listrik.
Sebagai awal atau pada 2021, sebanyak empat perusahaan tergabung dalam klaster tersebut. Mereka adalah PT Huayue Nickel Cobalt, PT QMB New Energy Material, PT Fajar Metal Industry, dan PT Teluk Metal Industry.
Namun, itu baru awal. Klaster komponen baterai kendaraan listrik di IMIP perlahan berkembang.
Pada 2023 saja misalnya, Managing Director IMIP Hamid Mina mengatakan klaster tersebut dapat memproduksi 120.000 metrik ton nickel cobalt dan 120.000 ton nickel sulfide per tahunnya.
Sementara Direktur Komunikasi IMIP Emilia Bassar pada 2025 mengatakan klaster tersebut dapat memproduksi 207.000 metrik ton mixed hydroxide precipitate (MHP), 45.000 metrik ton nickel matte, dan sekitar 50.000 metrik ton electrolytic nickel per tahunnya.
Adapun dalam laman IMIP pada September 2026, klaster tersebut juga disebut memproduksi 250.000 metrik ton electrolytic alumunium, 230.000 metrik ton grafit, 60.000 metrik ton lithium hydroxide, 95.000 metrik ton electrolytic manganese​​​​​​​, dan 20.000 metrik ton lithium carbonate​​​​​​​ per tahunnya.
Hasil produksi IMIP untuk klaster komponen baterai kendaraan listrik tersebut tentu saja sangat mendukung ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Dan hasil produksi yang jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit tersebut tentu tidak terlepas dari dukungan sumber daya manusia.
Hal ini juga ditegaskan oleh Head of Media IMIP Dedy Kurniawan.
“IMIP tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi,” kata Dedy.
​​​​​​​Berdasarkan data yang dihimpun Departemen HR IMIP, jumlah tenaga kerja IMIP telah mencapai 98.266 orang hingga akhir Agustus 2026.
Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan jumlah tenaga kerja pada 2020 yang hanya mencapai 35.592 orang, dan 74.350 orang pada 2023.
Lonjakan jumlah tenaga kerja IMIP tersebut pastinya bermanfaat untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik di tanah air.
Akan tetapi, IMIP tidak hanya menambah sumber daya manusia saja.
Head of Learning Center IMIP Trisno Wasito mengatakan pihaknya menghadirkan Program Praktisi Mengajar yang dirancang untuk menjembatani antara teori yang diajarkan di kampus dengan praktik nyata di dunia industri.
“Dalam jangka panjang, Program Praktisi Mengajar ini diharapkan menjembatani kebutuhan dunia industri yang membutuhkan sumber daya manusia kompeten,” kata Trisno.
​​​​​​​Dengan demikian, mahasiswa yang memperoleh ilmu dari IMIP tersebut dapat mengimplementasikannya di IMIP maupun perusahaan lain demi mendukung pembangunan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Itu semua memungkinkan karena materi praktisi dari IMIP memiliki sudut pandang yang berbeda dengan dosen di kampus.
“Praktisi dapat menjelaskan bagaimana proses kerja berlangsung secara rinci dan praktis. Tidak terlalu memakai teori,” lanjut Trisno.
Di luar SDM, IMIP juga mengencangkan dukungannya terhadap ekosistem kendaraan listrik maupun industri nikel lainnya melalui daya tarik terhadap investor.
Deputi Direktur Operasional IMIP Yulius Susanto mengatakan terjadi lonjakan investasi atau penanaman modal di IMIP.
Pada 2025 misalnya, IMIP menarik investasi berskala global hingga mencapai 41,483 miliar dolar Amerika Serikat. Berbeda dengan capaian 2022 yang menarik investasi sebanyak 29,6 miliar dolar AS.
“Investasi di kawasan IMIP terus meningkat secara konsisten,” kata Yulius.
Di sisi lain, komitmen IMIP terhadap ekosistem kendaraan listrik juga diterapkan dengan menghadirkan kendaraan listrik untuk dimanfaatkan di kawasan.
Yulius mengatakan hingga Desember 2025, terdapat 503 unit kendaraan listrik yang dimanfaatkan di IMIP.
Sebanyak 503 kendaraan tersebut terdiri atas 256 dump truck​​​​​​​, 110 loader, 106 ekskavator dan forklift​​​​​​​, 19 truk ringan dan penyapu jalan, serta 12 kendaraan lainnya.”Penggantian alat-alat berat dan truk bertenaga
Sebagai tahap awal, pada 2021 sebanyak empat perusahaan tergabung dalam klaster tersebut. Mereka adalah PT Huayue Nickel Cobalt, PT QMB New Energy Material, PT Fajar Metal Industry, dan PT Teluk Metal Industry.
Namun, itu baru permulaan. Klaster komponen baterai kendaraan listrik di IMIP perlahan terus berkembang.
Pada 2023, misalnya, Managing Director IMIP Hamid Mina mengatakan klaster tersebut dapat memproduksi 120.000 metrik ton nickel cobalt dan 120.000 ton nickel sulfide per tahun.
Sementara itu, Direktur Komunikasi IMIP Emilia Bassar pada 2025 mengatakan klaster tersebut dapat memproduksi 207.000 metrik ton mixed hydroxide precipitate (MHP), 45.000 metrik ton nickel matte, dan sekitar 50.000 metrik ton electrolytic nickel per tahun.
Adapun dalam laman IMIP pada September 2026, klaster tersebut juga disebut memproduksi 250.000 metrik ton electrolytic aluminium, 230.000 metrik ton grafit, 60.000 metrik ton lithium hydroxide, 95.000 metrik ton electrolytic manganese, dan 20.000 metrik ton lithium carbonate per tahun.
Hasil produksi IMIP untuk klaster komponen baterai kendaraan listrik tersebut tentu sangat mendukung perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Produksi dalam jumlah besar itu tentu tidak terlepas dari dukungan sumber daya manusia.
Hal tersebut juga ditegaskan oleh Head of Media IMIP Dedy Kurniawan.
“IMIP tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi,” kata Dedy.
Berdasarkan data yang dihimpun Departemen HR IMIP, jumlah tenaga kerja IMIP telah mencapai 98.266 orang hingga akhir Agustus 2026.
Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja pada 2020 yang hanya mencapai 35.592 orang dan 74.350 orang pada 2023.
Lonjakan jumlah tenaga kerja IMIP tersebut tentu bermanfaat dalam mendukung ekosistem kendaraan listrik di tanah air.
Akan tetapi, IMIP tidak hanya menambah jumlah sumber daya manusia.
Head of Learning Center IMIP Trisno Wasito mengatakan pihaknya menghadirkan Program Praktisi Mengajar yang dirancang untuk menjembatani teori yang diajarkan di kampus dengan praktik nyata di dunia industri.
“Dalam jangka panjang, Program Praktisi Mengajar ini diharapkan menjembatani kebutuhan dunia industri yang membutuhkan sumber daya manusia kompeten,” kata Trisno.
Dengan demikian, mahasiswa yang memperoleh ilmu dari praktisi IMIP dapat mengimplementasikannya di IMIP maupun perusahaan lain untuk mendukung pembangunan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Hal itu dimungkinkan karena materi yang diberikan praktisi IMIP memiliki sudut pandang berbeda dengan pembelajaran yang diberikan dosen di kampus.
“Praktisi dapat menjelaskan bagaimana proses kerja berlangsung secara rinci dan praktis. Tidak terlalu memakai teori,” lanjut Trisno.
Di luar pengembangan SDM, IMIP juga memperkuat dukungannya terhadap ekosistem kendaraan listrik maupun industri nikel lainnya melalui daya tarik bagi investor.
Deputi Direktur Operasional IMIP Yulius Susanto mengatakan terjadi lonjakan investasi atau penanaman modal di IMIP.
Pada 2025, misalnya, IMIP menarik investasi berskala global hingga mencapai 41,483 miliar dolar Amerika Serikat. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan capaian pada 2022 yang mencapai 29,6 miliar dolar AS.
“Investasi di kawasan IMIP terus meningkat secara konsisten,” kata Yulius.
Di sisi lain, komitmen IMIP terhadap ekosistem kendaraan listrik juga diterapkan melalui pemanfaatan kendaraan listrik di kawasan industri tersebut.
Yulius mengatakan hingga Desember 2025 terdapat 503 unit kendaraan listrik yang dimanfaatkan di IMIP.
Sebanyak 503 kendaraan tersebut terdiri atas 256 dump truck, 110 loader, 106 ekskavator dan forklift, 19 truk ringan dan penyapu jalan, serta 12 kendaraan lainnya.
“Penggantian alat-alat berat dan truk bertenaga listrik ini mampu memberikan efek yang sangat baik untuk lingkungan. Ini upaya bersama. Kami berkomitmen untuk berkontribusi secara positif dalam strategi pengurangan emisi nasional,” kata dia.
Ibarat membangun rumah, langkah IMIP dalam mendukung ekosistem kendaraan listrik di Indonesia sudah paripurna. Fondasinya telah dibangun, bangunannya berdiri, dan perabotannya mulai tersedia untuk menyambut penghuni. Namun, layaknya rumah yang terus dihuni, bangunan ini tetap terbuka untuk perkembangan dan renovasi.
​Dukungan IMIP ini tentu memperkuat tekad Presiden Prabowo untuk menghadirkan ekosistem dan kendaraan listrik nasional yang menjadi kebanggaan Indonesia di masa kepemimpinannya. (ANTARA)

Komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses