ORANSBARI,KLIKPAPUA.com – Menteri Transmigrasi Republik Indonesia dan pimpinan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyerahkan secara simbolis sebanyak 3.000 buku Calistung dan STEM untuk mendukung penguatan pendidikan di Kabupaten Manokwari Selatan.
Serah terima simbolis dilaksanakan di SDN Inpres 11 Oransbari dan menjadi bagian dari rangkaian kunjungan Menteri Transmigrasi ke Manokwari Selatan.
Kunjungan Menteri Transmigrasi ke Manokwari Selatan menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung perkembangan kawasan sekaligus kebutuhan masyarakat, termasuk pada sektor pendidikan.
Kehadiran pemerintah pusat bersama perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam bidang pendidikan, perhatian diarahkan pada penguatan literasi, numerasi, dan pembelajaran STEM bagi peserta didik. Arah tersebut sejalan dengan program TEP 3 ITS di Momiwaren yang berfokus pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi siswa tingkat SD, SMP, dan SMA, disertai pembelajaran STEM sederhana serta penguatan aspek kesehatan di lingkungan sekolah.
Program Tim Ekspedisi Patriot merupakan bagian dari program Kementerian Transmigrasi yang berkolaborasi dengan alumni maupun dosen peneliti dari perguruan tinggi negeri mitra di Indonesia, termasuk ITS. Kolaborasi ini menjadi sarana untuk menghadirkan kontribusi perguruan tinggi secara langsung dalam menjawab kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Salah satu agenda utama dalam rangkaian kunjungan tersebut adalah serah terima secara simbolis 3.000 bukuCalistung dan STEM ke SDN Inpres 11 Oransbari. Penyerahan ini menjadi simbol komitmen bersamaantara Kementerian Transmigrasi, ITS, TEP ITS, pemerintahdaerah, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari Selatan untuk memperluas akses peserta didik terhadap sumber belajar yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dasar.
Buku Calistung disiapkan untuk mendukung kemampuan membaca, menulis, dan berhitung secara bertahap, mulai dari pengenalan huruf dan angka hingga penjumlahan, pengurangan, serta keterampilan numerasi dasar. Sementara itu, buku STEM memperkenalkan konsep Science, Technology, Engineering, and Mathematics melalui kegiatan sederhana yang mendorong anak untuk mengamati, mencoba, merancang, menghitung, dan memecahkan masalah.
Kehadiran buku-buku tersebut juga relevandenganhasilpemetaan TEP ITS yang menunjukkanbahwakemampuanliterasi dan numerasi peserta didik masih beragam pada setiap jenjang. Selain itu, sejumlah sekolah masih menghadapi keterbatasan bahan bacaan nonpelajaran dan sarana pendukung pembelajaran. Karena itu, penyediaan sumber belajar menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat proses pembelajaran di sekolah.
“Setiap buku yang dibuka adalah sebuah jendela menuju dunia yang lebih luas.”
Melalui 3.000 buku tersebut, diharapkan peserta didik tidak hanya mendapatkan tambahan bahan bacaan, tetapi juga memperoleh ruang untuk membangun rasa ingin tahu, melatih kemampuan berpikir logis, dan menumbuhkan keberanian untuk bercita-cita. Bagi anak-anak Momiwaren dan Manokwari Selatan, buku diharapkan menjadi jendela dunia yang membuka akses pada pengetahuan dan pengalaman belajar yang lebih luas.
Rangkaian kegiatan ini tidak berhenti pada penyerahan bantuan buku. Keberlanjutan program pendidikan juga diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Papua Barat.
Kerja sama tersebut menjadi langkah strategis agar program yang telah dirintis oleh TEP 3 ITS dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan setelah masa pelaksanaan Ekspedisi Patriot berakhir.
Kehadiran Universitas Muhammadiyah Papua Barat sebagai mitra perguruan tinggi lokal diharapkan mampu memperkuat kesinambungan pendampingan, khususnya dalam bidang literasi, numerasi, STEM, dan penguatan kapasitas pendidikan. Kolaborasi dengan perguruan tinggi yang berada lebih dekat dengan wilayah sasaran penting untuk memastikan program dapat menyesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan sekolah dan masyarakat setempat.
Melalui kerja sama ini, kegiatan pendampingan sekolah, pengembangan kapasitas guru, pemanfaatan buku, dan implementasi pembelajaran kreatif diharapkan dapat terus dikawal secara berkelanjutan. Dengan demikian, bantuan 3.000 buku tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang terus tumbuh.
Dalam implementasinya, program TEP 3 ITS dirancang mencakup pembelajaran literasi dan numerasi, kelas STEM sederhana, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Program di sekolah binaan dilaksanakan dengan frekuensi yang lebih sering, sedangkan sekolah nonbinaan tetap dijangkau secara bergantian. Pola tersebut diharapkan membuat manfaat program dapat tersebar lebih luas dan tidak terpusat pada satu sekolah saja.
Kegiatan pendidikan ini sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Pembangunan infrastruktur fisik perlu berjalan berdampingan dengan pembangunan kualitas manusia melalui pendidikan, penguatan kapasitas guru, akses terhadap sumber belajar, dan kolaborasi antarlembaga.
Kunjungan Menteri Transmigrasi ke Manokwari Selatan, serah terima simbolis 3.000 buku Calistung dan STEM ke SDN Inpres 11 Oransbari dan SMAN Momiwaren, sertapenguatankeberlanjutan program melalui MoU dengan Universitas Muhammadiyah Papua Barat menjadi tiga bagian yang saling melengkapi: melihat kebutuhan di lapangan, menghadirkan dukungan nyata, dan memastikan program dapat terus berjalan.
Kolaborasiantara Kementerian Transmigrasi, ITS, TEP ITS, PemerintahKabupatenManokwari Selatan, Dinas Pendidikan, sekolah, dan perguruan tinggi lokal membawa pesan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya dengan membangun jalan, rumah, dan fasilitas fisik. Pendidikan memiliki peran yang sama penting dalam membuka wawasan, meningkatkan kapasitas manusia, dan menyiapkan generasi masa depan.
Dari Momiwaren, 3.000 buku tersebut diharapkan menjadi ribuan pintu menuju pengetahuan baru. Setiap halaman yang dibuka menjadi langkah kecil untuk membuka jendela dunia, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan menghadirkan harapan yang lebih luas bagi generasi muda Manokwari Selatan.(rls/red)