
JEMBER– Menghela napas panjang dan selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa terucap dari Rey Talahatu, salah satu peserta Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) dari Papua Barat, saat menginjakkan kakinya di kampus Universitas Jember (Unej), Jawa Timur.
Perjuangan kontingen mahasiswa yang mewakili Provinsi Papua Barat tidaklah mudah menuju ke ajang seni tingkat nasional karena mereka harus menempuh ribuan kilometer perjalanan dengan kapal laut selama empat hari. Beratnya perjuangan itu tidak menyurutkan semangat mahasiswa asal Kota Injil tersebut menuju Kabupaten Jember untuk berdiri di panggung Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII yang digelar pada 8-10 September 2026.
Belasan mahasiswa itu datang membawa karya dan identitas budaya daerah untuk bersaing dalam ajang seni mahasiswa tingkat nasional bersama kontingen dari 32 provinsi, dengan 15 tangkai seni yang diperlombakan, di antaranya puisi, monolog, tari, menyanyi, fofografi, dan cerpen strip.
Rey bersama belasan rekannya didampingi ofisial berangkat dari Pelabuhan Manokwari pada Rabu (2/9) dan menempuh perjalanan laut selama empat hari, dengan singgah di beberapa tempat untuk transit, yakni Pelabuhan Sorong, Pelabuhan Ambon, Pelabuhan Bau-bau, Pelabuhan Makassar, hingga kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Empat hari perjalanan dari timur Indonesia menuju ke Peksiminas di Kabupaten Jember tentu sangat melelahkan, namun semangat tim mahasiswa Papua Barat tetap membara untuk tampil dengan performa terbaiknya di ajang seni mahasiswa tingkat nasional itu dengan mengikuti 9 tangkai seni.
Peksiminas XVIII bukan sekadar panggung perlombaan karena di balik penampilan para mahasiswa, tersimpan cerita panjang tentang latihan, perjalanan, pendampingan, persiapan karya hingga perjuangan menempuh jarak dari berbagai penjuru Indonesia.
Rey mengaku sangat bangga bisa mewakili Papua Barat di kompetisi seni mahasiswa tingkat nasional, karena ajang nasional yang diikuti oleh mahasiswa di provinsi setempat merupakan kesempatan langka, sehingga kehadirannya di Peksiminas menjadi kesempatan emas untuk membuktikan bahwa mahasiswa Papua Barat bisa bersaing dengan provinsi lainnya.
Hal senada juga disampaikan mahasiswa Papua Barat lainnya Yusanna Buai, yang mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari ajang seni mahasiswa tingkat nasional tersebut. Bersama rekan-rekannya, ia telah mempersiapkan diri untuk tampil, sekaligus membawa nama daerahnya di hadapan peserta dari berbagai provinsi.
Kehadirannya di ajang kompetensi seni itu tidak hanya menyangkut penampilan di atas panggung, namun tim juga harus mempersiapkan berbagai kebutuhan sebelum berangkat ke Jember, mulai dari latihan, penampilan, hingga karya yang akan ditampilkan dalam lomba.
Dosen pendamping kontingen Papua Barat, Nelson Mansoara mengatakan persiapan telah dilakukan jauh sebelum Peksiminas XVIII berlangsung, bahkan kurang lebih satu tahun tim sudah mempersiapkan diri, dimulai dari pekan seni mahasiswa daerah (peksimida).
Seleksi di tingkat daerah menjadi pintu masuk bagi mahasiswa terbaik untuk melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional. Dari proses tersebut, terpilih mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang kemudian bergabung dalam kontingen Papua Barat.
Meski harus menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, ia memastikan timnya datang dengan optimisme dan mampu bersaing dengan mahasiswa di 32 provinsi di Indonesia.
Ketua Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Papua Barat Baso Daeng mengatakan perlu perjuangan yang tidak mudah untuk datang ke Kabupaten Jember demi mengikuti Peksiminas karena harus menempuh total perjalanan 10 hari di laut, empat hari perjalanan berangkat dan enam hari perjalanan pulang.
“Anak-anak kami rela berlayar beberapa hari dari Manokwari menuju ke Surabaya, kemudian meneruskan perjalanan darat menuju Jember demi mengikuti Pekan Seni Mahasiswa Nasional,” katanya.
Semangat para peserta dari Papua perlu diapresiasi karena setelah ajang Peksiminas selesai, mereka harus berlayar kembali untuk menempuh perjalanan laut selama enam hari untuk pulang ke kampung halamannya. Meski belum berhasil membawa medali untuk Papua Barat, mereka tetap tersenyum karena mendapatkan pengalaman yang sangat berharga bisa ikut andil dalam pekan seni tingkat nasional.
Meletusnya Gunung Anak Krakatau sempat membuat panik para peserta Peksiminas yang menggunakan jalur udara akibat banyaknya penerbangan dibatalkan karena sejumlah bandara terpapar abu vulkanik yang berbahaya bagi keselamatan penerbangan.
Ketika letusan Gunung Anak Krakatau mengganggu sejumlah penerbangan, semangat peserta untuk tetap tampil tidak ikut padam. Bahkan, beberapa peserta rela menempuh perjalanan darat selama beberapa hari, seperti peserta dari Sumatera Barat.




















