MANOKWARI,KLIKPAPUA.com– Bupati Manokwari, Hermus Indou, menghadiri pelantikan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Manokwari periode 2025–2028 di Hotel Aston Niu Manokwari, Sabtu (11/7/2026).
“Atas nama pemerintah daerah dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh dokter yang telah menjadi mitra strategis dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Manokwari,” ujar Hermus.
Ia menekankan peran krusial IDI dan para dokter dalam mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Manokwari agar bisa mencapai target 78 hingga 79 poin, guna melampaui capaian kabupaten/kota lain di Papua Barat.
Salah satu fokus utama yang disoroti adalah penanganan tengkes (stunting) yang angkanya dinilai masih cukup tinggi di wilayah Manokwari.
“Penanganan stunting harus dilakukan secara sistematis dari sekarang melalui perencanaan yang matang, tidak boleh lagi bersifat insidentil. Masalah ini sebenarnya ringan jika kita bisa berkoordinasi, berkolaborasi, dan membagi tugas dengan baik antara Dinas Kesehatan dan seluruh organisasi profesi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Hermus memaparkan visi transformasi pembangunan menuju Manokwari yang Maju, Mandiri, dan Sejahtera, dengan misi pertama berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mencakup tujuh klaster, termasuk bidang religi, pendidikan, dan kesehatan.
“Kita menginginkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan inklusif untuk semua orang. Tidak boleh ada diskriminasi dalam pelayanan. Siapa pun masyarakat yang datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan harus dilayani dengan baik tanpa melihat latar belakang mereka,” imbuhnya.
Merespons aspirasi terkait kesejahteraan tenaga medis yang sempat disinggung dalam acara pelantikan, Hermus menyambut baik hal tersebut dan meminta IDI bersama Dinas Kesehatan duduk bersama merumuskan formula yang tepat.
Ia juga menyoroti persoalan sarana-prasarana serta tantangan distribusi sumber daya manusia (SDM) dokter di wilayah puskesmas.
Menurutnya, selama ini terjadi penumpukan dokter di area kota, sementara puskesmas di wilayah pinggiran kerap kekurangan tenaga karena faktor adaptasi geografis dan kendala jaringan komunikasi.
“Analisis kebutuhan tenaga kesehatan ini harus dilakukan secara baik oleh Dinas Kesehatan untuk memastikan redistribusi tenaga kesehatan yang adil dan merata, sehingga pelayanan kesehatan di seluruh wilayah dapat berlanjut secara berkesinambungan,” jelas Hermus.
Di akhir sambutannya, Hermus menitipkan pesan bagi kepengurusan IDI Manokwari yang baru untuk memperkuat peran dan sinergi, serta meminta IDI selalu berkolaborasi sejak dini dengan pemerintah daerah dalam agenda-agenda strategis pelayanan kesehatan.
“Jaga soliditas organisasi, seluruh anggota untuk tetap solid, dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat, dan mengutamakan keputusan bersama demi kemajuan profesi. Lahirkan terobosan baru, hadirkan inovasi dan ide-ide baru dalam pelayanan medis guna mengoptimalkan keterbatasan sumber daya yang ada,” pesan Hermus. (mel)





















