Beranda NASIONAL Harga Minyak Goreng Premium Naik, Lonjakan Bahan Baku Plastik Global Pemicunya
JAKARTA,KLIKPAPUA.com–Menteri Perdagangan, Budi Santoso, membenarkan adanya kenaikan harga minyak goreng kemasan premium yang terjadi belakangan ini. Ia menjelaskan, lonjakan harga tersebut bukan disebabkan oleh gangguan pasokan minyak sawit, melainkan terdorong oleh naiknya harga bahan baku plastik di pasar global.
Menurut Budi, kenaikan harga bahan baku plastik (terutama turunan nafta) tidak lepas dari dampak konflik geopolitik global yang mengganggu rantai pasok energi dan industri petrokimia.
“Yang naik itu bukan karena minyaknya, tapi karena kemasannya. Harga plastik dunia naik akibat situasi global,” ujar Budi, Rabu (22/4/2026).
Ia menegaskan, secara umum pasokan minyak goreng nasional dalam kondisi aman dan distribusi berjalan lancar. Namun, ia mengakui masih terdapat wilayah tertentu seperti Papua yang mengalami harga lebih tinggi akibat kendala distribusi logistik.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah telah berkoordinasi dengan pelaku industri plastik agar tetap menjaga kapasitas produksi di tengah tekanan biaya bahan baku. Selain itu, pemerintah juga tengah mengupayakan alternatif impor bahan baku plastik dari berbagai negara guna menstabilkan harga di dalam negeri.
“Kami minta industri tetap produksi, dan pemerintah juga mencari sumber bahan baku alternatif dari luar negeri agar tekanan harga bisa ditekan,” jelasnya.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per Selasa (21/4), harga minyak goreng sawit kemasan premium tercatat berada di level Rp21.796 per liter, naik tipis 0,19 persen dibandingkan hari sebelumnya yang berada di angka Rp21.755 per liter.
Sementara itu, harga minyak goreng rakyat merek MinyaKita justru mengalami penurunan sebesar 0,24 persen, dari Rp15.980 per liter menjadi Rp15.942 per liter.
Pemerintah memastikan akan terus menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan ketersediaan pasokan, terutama untuk kebutuhan masyarakat luas, agar gejolak global tidak berdampak signifikan terhadap konsumsi domestik.(koma)
Menyukai ini:
Suka Memuat...