Kredit Perbankan Tumbuh 9,98% Jadi Rp8.755 Triliun, OJK Tegaskan Sektor Keuangan Tetap Stabil dan Tangguh

0

JAKARTA,KLIKPAPUA.com – Hingga April 2026, penyaluran kredit perbankan nasional tercatat tumbuh positif sebesar 9,98 persen secara tahunan (year on year) menjadi Rp8.755 triliun. Di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan internasional, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa sektor jasa keuangan Indonesia tetap berada dalam kondisi yang stabil, tangguh, dan mampu menopang aktivitas ekonomi nasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan ketahanan sistem keuangan saat ini didukung oleh tiga pilar utama: pertumbuhan intermediasi yang terus positif, tingkat likuiditas yang memadai, serta permodalan lembaga keuangan yang sangat kuat dan jauh di atas ambang batas keamanan.

“Secara umum sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga kestabilannya dan mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional, meskipun kinerja ekonomi global masih berlangsung penuh ketidakpastian,” ujar Friderica dalam paparan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Mei 2026.

Pertumbuhan kredit perbankan saat ini masih ditopang oleh meningkatnya kebutuhan investasi dan geliat aktivitas usaha masyarakat. Secara rinci, kredit investasi menjadi pendorong utama dengan lonjakan mencapai 19,48 persen. Diikuti oleh kredit konsumsi yang tumbuh 6,13 persen, serta kredit modal kerja yang naik 6,04 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Ditinjau dari segmen debitur, korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,51 persen. Sementara itu, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai menunjukkan tanda perbaikan dengan pertumbuhan positif sebesar 0,16 persen.

“Pertumbuhan kredit cukup merata di berbagai sektor, hal ini menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak dan berputar dengan baik,” jelasnya.

Berdasarkan kelompok kepemilikan bank, pertumbuhan kredit tertinggi dicatatkan oleh bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang naik 14,35 persen. Adapun dari sisi sektor ekonomi, penyaluran dana paling banyak terserap oleh sektor perdagangan, industri pengolahan, dan jasa dunia usaha.

Selain penyaluran kredit, penghimpunan dana masyarakat juga menunjukkan tren menggembirakan. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun. Kenaikan ini tercatat pada komponen giro, tabungan, hingga deposito, yang mencerminkan kepercayaan publik yang masih tinggi terhadap sistem perbankan nasional.

Dari sisi kesehatan perbankan, indikator likuiditas tercatat sangat aman. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Non-Core Deposit (AL/NCD) sebesar 113,18 persen, dan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) di angka 25,23 persen. Kedua angka tersebut jauh melampaui batas minimum yang ditetapkan regulator.

Kualitas aset juga tetap terjaga, di mana rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) bruto tercatat 2,17 persen dan NPL neto di level 0,84 persen. Sementara itu, indikator risiko kredit Loan at Risk (LaR) justru terus menurun menjadi 8,82 persen.

“Angka-angka ini membuktikan kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya masih sangat baik dan kualitas kredit tetap terkendali,” tegas Friderica.

Dari sisi permodalan, industri perbankan berada dalam posisi sangat kokoh. Hingga April 2026, rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 23,97 persen, jauh di atas ketentuan minimum. Tingkat permodalan ini menjadi bantalan kuat untuk menghadapi segala risiko eksternal yang mungkin muncul.

Sementara itu, pasar modal Indonesia masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi dunia dan tingginya volatilitas pasar keuangan global. Per akhir Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat di level 6.127,38 atau terkoreksi 29,14 persen secara year to date.

Meski indeks mengalami penurunan, likuiditas pasar justru meningkat. Rata-rata nilai transaksi harian naik menjadi Rp22,86 triliun, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang sebesar Rp18,82 triliun.

Menariknya, minat masyarakat untuk berinvestasi justru terus bertumbuh pesat. Jumlah investor pasar modal per Mei 2026 mencapai 27,75 juta orang, atau naik 36,27 persen dibanding awal tahun.

“Peningkatan jumlah investor ini membuktikan kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia masih tetap terjaga kuat,” kata Friderica.

Dari sisi pembiayaan korporasi, pasar modal tetap berperan strategis. Nilai penghimpunan dana melalui penawaran umum tercatat mencapai Rp68,18 triliun, dengan sejumlah rencana aksi korporasi lain senilai puluhan triliun rupiah masih dalam proses.

Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional, OJK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan pemangku kepentingan lain dalam wadah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

OJK juga berkomitmen memperkuat pengawasan agar sektor keuangan tetap mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus melindungi kepentingan masyarakat luas.

“Kami akan terus memantau dinamika ekonomi global dan domestik, serta mengambil langkah yang diperlukan demi menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dan melindungi masyarakat,” pungkas Friderica.(rls/red)


Komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses