Ini Penyebab Hasil Produksi Padi Oransbari Turun Hingga 75 Persen

0
110
Mantri Tani Oransbari Yunandar saat memberikan pelatihan ubinan kepada Mantri Tani se Manokwari Selatan. (Ist/klikpapua.com)

MANSEL,KLIKPAPUA.COM– Hasil ubinan produksi padi sawah di Distrik Oransbari mencapai 75 persen. Penyebab turunnya hasil produksi di salah satu lumbung pangan Provinsi Papua Barat ini terbilang cukup kompleks, mulai dari kerusakan irigasi, kemarau panjang serta hama penggerek batang.

Ditemui di kediamannya, Mantri Tani Distrik Oransbari Yunandar mengungkapkan, bahwa untuk musim tanam kali ini ada dua titik yang tidak mengalami terkendala pasokan air yakni Kampung Muari dan Kampung Margomulio, namun hasil produksi di dua titik itu tidak juga stabil, sebab sawah mereka terserang hama penggerek batang.

“Di Muari hasil ubinannya hanya sampai 3,5 kg/ satu petak ubinan dengan ukuran 2,5 m X 2,5 m. Turun kurang lebih 2 kg dari hasil ubinan musim lalu yang mencapai rata-rata 5,8 kg. Sesuai data yang kami tampung di lapangan, petani yang biasanya bisa memproduksi gaba sebanyak 70 karung kini tinggal 40 karung, ada satu dua yang masih bisa panen sampai 60 karung, tapi ada juga yang hanya panen 12 karung per hektarnya,” jelasnya.

Lebih lanjut Yunandar menjelaskan, bahwa kondisi di wilayah Margomulio kurang lebih sama, dan untuk dua titik tersebut hanya kurang lebih 100 hektar, sementara luas lahan yang ditanami di wilayah Oransbari untuk musim ini ada sebanyak 562 hektar.

Sementara sisa lahan lainnya yang menyebar di Kampung Margorukun, Akeju, Sidomulio dan Sindang Jaya mengalami kerusakan yang parah, bahkan sekitar 130 hektar lainnya rusak 100 persen, beruntung ada satu dua yang disebut masih sempat panen sampai 60 karung, namun sebagian besarnya rusak 75 persen bahkan ada yang hanya sampai memanen tujuh karung untuk satu hektar lahan.

“Masih ada beberapa yang belum panen, peluangnya untuk panen hanya tinggal 25 persen, jadi keseluruhan penurunan hasil produksi kita untuk musim kali ini mencapai 75 persen dari musim sebelumnya,” terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, petani di Oransbari tidak mendapatkan pasokan air sejak musim tanam kali ini. Bencana banjir yang mengakibatkan jebolnya saluran penghubung antara bendungan Warbiadi dan Waroser membuat irigasi tidak berfungsi maksimal.

Beruntung bagi petani yang memiliki lahan di Kampung Margomulio dan Kampung Muari, karena mereka masih bisa mendapatkan pasokan air dari bendungan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat di Kampung Margomulio. Hanya saja lahan tersebut ternyata tidak luput dari serangan hama. “Jadi cukup kompleks persoalan kita di musim ini, bendungan rusak, kemarau panjang dan juga serangan hama yang cukup parah,” kunci Yunandar.(st/bm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.