Pembinaan Keluarga Besar TNI di Kodim 1801/Manokwari, Pasilog Beri Materi Bahaya dan Penanggulangan Radikalisme

0
44
Pasilog Kodim 1801/Manokwari Mayor Inf Irwan Suwarna saat memberikan materi tentang Bahaya dan Penanggulangan Radikalisme kepada peserta Bin KBT, Kamis (12/11/2020) di aula Kodim 1801/Manokwari. (Foto: Ist)
MANOKWARI,KLIKPAPUA.com–Pasilog Kodim 1801/Manokwari Mayor Inf Irwan Suwarna memberikan materi tentang Bahaya dan Penanggulangan Radikalisme kepada para peserta undangan Bin KBT, Kamis (12/11/2020) di aula Kodim 1801/Manokwari, sekaligus memberikan sambutan mewakili Dandim 1801. Hadir Ketua PC 3201 FKPPI Manokwari Harri Ramandey  dan Ketua PD HIPAKAD Papua Barat, Rachmat Cahyadi Sinamur.
Mengawali paparannya dihadapan 73 peserta, Pasilog memberikan pemahaman kepada peserta bahwa Indonesia adalah sebuah Negara Kepulauan dan diakui oleh dunia Internasional sejak terbitnya UNCLOS 1982.
Dengan demikian, kata Irwan ,perairan/laut yang berada di antar pulau Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah kedaulatan NKRI yang tidak terpisahkan dengan wilayah daratan Indonesia. Namun konsekuensi logisnya, Indonesia harus memberikan akses bagi kapal asing untuk bisa melintasi perairan Indonesia yang disebut dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).
Selanjutnya, Pasilog menyampaikan bahwa Indonesia itu kaya dan besar, yang mana terdiri dari 13.466 pulau, 1.340 suku bangsa, 700 bahasa, serta memiliki sumber daya alam yang melimpah baik di daratan maupun di laut hingga dasar laut. “Tentunya, kebesaran dan kekayaan Indonesia harus tetap kita jaga dan rawat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang utuh,” jelas Pasilog.
Walau begitu, tambah Pasilog, seiring dengan dinamika perkembangan perpolitikan, Ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekonomi global membawa pengaruh kepada situasi dalam negeri Indonesia. Ancaman nyata yang dihadapi saat ini antara lain adalah Terorisme, Radikalisme, Intoleran, serta Konflik Identitas (SARA).
“Keempat hal tersebut dapat berujung kepada Disintegrasi Bangsa, oleh karena itu semua elemen anak bangsa harus benar-benar merawat, menjaga, dan berpegang teguh kepada 4 pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Mengingat, keempat Pilar tersebutlah yang dapat menjadikan rumah besar yang bernama Indonesia tetap berdiri kokoh dan utuh selamanya,”
Lebih lanjut, Pasilog mengatakan bahwa, Radikalisme dan Terorisme dapat menimbulkan dampak buruk bagi Indonesia, antara lain terjadinya teror dan kekerasan yang menimbulkan keresahan bahkan ketakutan dalam masyarakat, bisa juga menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal, dapat menyebabkan hilangnya harta benda bahkan nyawa sekalipun, terhambatnya perekonomian masyarakat, dan pada akhirnya bisa menimbulkan disintegrasi bangsa.
“Selanjutnya, kelompok radikal memiliki karakteristik tersendiri, seperti tidak toleran dimana tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, fanatik yang keliru yakni selalu merasa benar sendiri dan menganggap orang lain salah, mengekslusifkan diri yakni membedakan diri/memisahkan diri dengan umat lainnya baik intern maupun ekstern, serta bersikap revolusioner yakni cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan mereka,” jelasnya.
Selain itu, Dandim 1801/Manokwari Kolonel Arm Airlangga melalui Pasilog juga menjelaskan tentang media penyebaran paham radikalisme maupun terorisme yakni melalui pendekatan personal yang menyasar keluarga, teman dan orang-orang dekat, melalui forum diskusi seperti kelompok-kelompok kajian, melalui media publikasi yaitu poster, selebaran maupun tabloid, serta melalui Internet yaitu melalui website, Facebook, IG, Twitter, Whatshapp, Telegram, Chanel Youtube, dan media sosial lainnya.
Dikesempatan itu, penekanan kepada para peserta bahwa, saat ini yang menjadi sasaran serangan paham radikalisme dan terorisme adalah pola pikir/mind set berupa pertarungan ide, paham, gagasan untuk memengaruhi masyarakat khususnya kamu milenial.
Oleh sebab itu,harus benar-benar dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial atau Internet, mengingat media sosial dan Internet adalah media yang paling mudah dan murah untuk melakukan serangan dan mempengaruhi mind set masyarakat. “Karena itu, sebagai anak bangsa yang cinta akan NKRI maka kita membutuhkan upaya kolektif untuk mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme agar tidak berkembang di Indonesia melalui kegiatan menanamkan jiwa nasionalisme dimulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal, sekolah serta di lingkungan kerja,” ujarnya.
“Menjadikan diri kita sebagai anak bangsa yang berpikiran positif dan terbuka serta toleran, kita harus waspada terhadap segala bentuk provokasi dan hasutan yang membenturkan agama satu dengan agama yang lain ataupun sesama agama, membangun jaringan dalam komunitas positif dan junjung tinggi perdamaian, serta masing-masing kita harus menjalankan aktivitas keagamaan dengan semangat dan jiwa toleransi yang tinggi,” ujar Irwan menambahkan.
Dirinya juga mengingatkan kepada peserta bahwa bahwa Indonesia ini adalah rumah besar bagi semua anak bangsa yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda baik agama, suku, ras dan antar golongan, sehingga tidak boleh ada salah satu pihak yang mengklaim bahwa Indonesia harus menjadi milik agama tertentu, atau suku tertentu atau ras tertentu ataupun golongan tertentu.
Dandim 1801/Manokwari pun berharap, KB FKPPI dan HIPAKAD Manokwari dapat mengambil peran besar dalam upaya melalukan pencegahan terhadap perkembangan paham radikalisme dan terorisme di Indonesia, khusus di Manokwari, melalui kegiatan personal maupun secara organisasi FKPPI dan HIPAKAD. “Dengan demikian akan dapat mempersempit ruang gerak dari kelompok-kelompok radikal untuk mengembangkan paham mereka ke tengah-tengah masyarakat,” tutupnya.(rls/aa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.