Pandemi Covid-19 Berkepanjangan, Bakal Berdampak pada Ketersediaan Pangan Papua Barat

0
131
Akademisi Unipa, Agus Sumule. (Foto: Aufrida/klikpapua)
MANOKWARI,KLIKPAPUA.COM– Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan akan mempengaharui ketersediaan pangan bagi masyarakat di Papua Barat. Ini perlu diantisipasi dan diseriusi, agar mampu menjaga sumber panjang di wilayah ini.
Akademisi Unipa, Agus Sumule mengatakan, teori perekonomian Papua Barat, khususnya pangan terancam. “Karena ada dua hal,  pertama Bapak Presiden sendiri sempat sampaikan kemungkinan kita akan sulit mengimpor pangan, apalagi Indonesia sampai hari ini masih mengimpor dari Thailand, Vietnam dan Pakistan,” ujar Agus Sumule saat ditemui, Senin (6/7/2020) di Swiss-Belhotel.
Sementara tiga tempat pengimport beras tersebut juga mengalami masalah yang sama, tertimpa wabah Covid-19. “Sebenarnya beberapa kali pertemuan saya sudah sering bilang sebenarnya yang harus bicara adalah dolog yang hingga sat ini kita belum mendapatkan datanya. Dolog Manokwari dan Sorong  harus memberitahu bisa tidak ketersedian beras bisa sampai akhir tahun, kalau dia menjawab kita akan menghadapi kekurangan pangan, maka langkah-langkah harus segera diambil,” tegasnya.
Sebab, menurut Agus Sumule, tidak ada tanaman yang hari ini ditanam besok sudah bisa dipanen, misalnya saja ubi kayu paling tidak lima bulan. Butuh waktu, oleh sebab itulah harus didorong agar ada upaya pihak dolog untuk menjelaskan. “Kemudian point kedua yang harus kita pahami baik itu, masyarakat di Papua Barat ini  sesuai hitungan kami dari Unipa, apabila terjadi sesuatu pada ketahanan pangan hanya sekitar 25% yang bisa hidup sendiri, karena dia punya kebun, sedangkan 75% ini hidup dari makan luar atau makanan inport,” tuturnya.
Potensi makanan di Papua Barat ini ada, misalnya seperti sagu, memiliki sekitar 5 ribu hektar di Papua Barat, tetapi sagu itu ada yang punya, ada yang tidak. “Dan sagu langsung ada jelas tidak lah, karena harus perlu di panen.
Pada intinya saya mau sampaikan pengaruh Covid-19 pada pertanian itu sangat besar, sehingga harus mendapat perhatian dengan sungguh-sungguh. Untuk tanaman padi sendiri hanya bisa memenuhi 10,2 % dari total  kebutuhan, makanya saya bilang jangan kita berbicara produksi, sangat terlambat kalau kita mau bicara produksi,” jelas Pakar Ekonomi ini.
Lebih lanjut Agus Sumule menyampaikan Covid-19 ini membuka mata kita bukan hanya di Papua Barat, tetapi seluruh Indonesia , terhadap banyak aspek mulai dari aspek kesehatan, dan aspek ketahanan pangan. “Kemungkinana terburuk tidak terpenuhinya kebutuhan masyarakat, maka masyarakat lapar dan yang bisa hidup hanya 25%, mereka yang masih bisa mengonsumsi panganan lokal.
Namun yang sangat menarik ini yang 25% saat ini mereka yang kurang kita kasih perhatian  dalam penggunaan pertanian, mereka ini disebut sebagai petani subsistem yang menanam buat dirinya sendiri,” tandasnya.
Pemerintah dan masyarakat, menurut dia, sejak awal harus mengantisipasi dengan memanfaatkan potensi makanan di Papua Barat. Seperti lahan sagu di Sorong Selatan seluas 500 ribu hektar. Kemudian lahan padi diupayakan bisa tertanam semuanya. Khusus di Oransbari, hanya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar 10,2% dari total dan itu sangat sedikit. “Karena itu jangan kita berbicara tentang produksi karena sangat terlambat. Sehingga kita harus tanya karena kita bisa hitung konsumsinya berapa dan juga kepada penyuplai atau penyedia beras ini,” pungkasnya.(aa/bm)
Editor: BUSTAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.