Direktur RS Pratama Warmare: Sosialisasi Terus Dilakukan,Perlu Ada Kampung Siaga

0
329
Direktur Rumah Sakit Pratama Warmare, dr Alwan Rimosan
MANOKWARI,KLIKPAPUA.COM– Direktur Rumah Sakit Pratama Warmare, dr Alwan Rimosan menyatakan akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang spesifik masih memiliki adat yang kuat antara satu kampung dengan kampung lainnya di Distrik Warmare.
“Sehingga kita melibatkan intelektual-intelektual Arfak yang ada di situ, termasuk petugas kesehatan yang tinggal memang dekat dengan mereka  untuk komunikasi, edukasi konseling itu dengan bahasa-bahasa mereka lebih masuk dan lebih bisa diterima,” ungkap dr. Alwan saat ditemui wartawan di Dinkes Kabupaten Manokwari, Senin (18/5/2020).
Sehingga dengan stigma-stigma yang ada sudah mulai bisa mereka hadapi, bisa berkomunikasi dengan yang lain. “Awal-awal nya itu mereka dengar isu seperti itu, antara satu kampung dengan kampung lain, atau ke pasar atau ke toko atau ke mana mereka selalu tanya dari mana, sehingga kalau warga tersebut dari Gentuy, maka tidak akan dilayani,” ungkapnya.
Sehingga dengan dilakukannya sosialisasi dari provinsi dari HAKLI dan dari intelektual Arfak bersama Pos Lapangan, Rumah Sakit, PMI provinsi dan kabupaten, sekaligus dilakukan sosialisasi, membagikan masker, kemudian dilakukan penyemprotan. “Akhirnya mereka bisa bersosialisasi dengan kita untuk bisa menerima itu,” jelasnya.
Menurutnya, koordinasi terus dilakukan dengan Kepala Distrik. Bersama Satgas Distrik, yang melibatkan semua personil, termasuk anggota dewan. Dari situlah lahirkan  kampung-kampung siaga Covid-19. “Kita bentuk itu dengan anggaran ABK (Anggaran Belanja Kampung) Rp 8 juta kita pakai untuk kita buat baliho kemudian kita buat cuci tangan dan beberapa alat-alat pembersih,”  bebernya.
dr. Alwan berharap dengan adanya kampung siaga ini bisa digunakan untuk menampung OTG, OPD yang ringan. Hal itu bisa dimanfaatkan seperti kampung di Bintuni, di Pulau Jawa, dimana mereka punya satu bangunan atau perkampungan yang dipakai untuk isolasi mandiri. “Untuk Warmare kita harus kerja berat karena mereka masih kuat masalah adat, artinya begini Bintuni saja ada yang adatnya juga kuat, mereka bisa. Harusnya kita di sini juga harus bisa. Ini upaya-upaya kita terus lakukan, kita lakukan terus dengan pendekatan bahasa, bahasa ini dengan kita libatkan tokoh-tokoh agama, atau tokoh-tokoh suku, untuk kita berupaya, minimal ada 1 kampung yang sebagai contoh untuk kita bikin isolasi mandiri di situ,” pungkasnya.(aa/bm)
Editor: BUSTAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.