
MANOKWARI,KLIKPAPUA.com– Kinerja industri perbankan di Papua Barat dan Papua Barat Daya hingga Mei 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Total aset perbankan tercatat sebesar Rp32,27 triliun, tumbuh 8,37 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya Budi Rahman menyampaikan hal tersebut dalam jurnalis update di salah satu resto di Manokwari, Selasa (30/6/2026).
Budi merinci, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp16,77 triliun atau tumbuh 10,36 persen (yoy), sementara penyaluran kredit mencapai Rp19,31 triliun atau meningkat 5,02 persen (yoy).
Dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 115,15 persen, sedangkan rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di angka 3,80 persen, yang menurutnya masih berada pada level yang dapat dikelola dengan baik.
“Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan tetap terjaga, sementara fungsi intermediasi perbankan masih berjalan dengan baik dalam mendukung aktivitas ekonomi di Papua Barat dan Papua Barat Daya,” ujar Budi.
Ia menambahkan, industri perbankan di kedua wilayah masih didominasi bank umum dengan pangsa 98,89 persen dari total aset, 99,28 persen dari total DPK, dan 98,34 persen dari total penyaluran kredit.
Budi juga mengungkapkan, penyaluran kredit kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tercatat sebesar Rp5,34 triliun dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 3,69 persen, masih berada di bawah ambang batas 5 persen.
Sementara itu, aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp534,75 miliar atau tumbuh 2,45 persen (yoy), dengan pembiayaan syariah meningkat 9,71 persen (yoy) menjadi Rp233,72 miliar.
“OJK akan terus mendorong peningkatan akses pembiayaan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan guna memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Budi. (dra)




















