MANOKWARI,KLIKPAPUA.COM– 10 peserta Ilmuwan Muda Papua (IMP) telah selesai melakukan Bootcamp dan menerima srtifikat. Kegiatan tersebut resmi ditutup oleh Prof Dr. Charlie D. Heatubun selaku Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Papua Barat, Kamis (17/9/2020) di Mansinam Beach.
Prof. Charlie menjelaskan, selama pelaksanan Bootcamp IMP ini memang seperti ekspektasi yang diharapkan, bahwa mereka 10 orang yang terpilih ini terjadi peningkatan kemampuan.
Pertama, dalam menguasai  metode-metode penelitian yang mereka lakukan, kemampuan mereka menjadi meningkat  menguasai metode-metode dasar dalam melaksanakan penelitian, terutama dalam rencana-rencana penelitian mereka terkait tugas penyelesaian akhir di perguruan tinggi. “Di proposal penelitian skripsi-nya itu semakin diperbaiki, semakin mantap,” katanya.
Diharapkan mereka segera akan menyesuaikan pendanaan, kemudian hibah untuk penelitian mereka segera diberikan dan kemudian bisa melaksanakan penelitian. Lanjut Prof Charlie mengatakan, hasil penelitian mereka diupayakan untuk bisa menulis secara baik, untuk diterbitkan di dalam jurnal-jurnal ilmiah, baik itu jurnal di dalam negeri, maupun juga nanti bekerjasama dengan pembimbingnya untuk diterbitkan di jurnal bereputasi di luar negeri.
“Seperti apa yang telah  saya sampaikan  bahwa mereka ini juga sedang  kita persiapkan untuk tahun 2022 kita akan menjadi tuan rumah Internasional  Flora Malesiana Simposium, jadi kita punya kewajiban untuk mengkaderkan para taksonomi botani muda untuk presentasi di sana, ” ungkapnya.
Menurut Prof, pihaknya berusaha mengambil peran lebih besar dalam mengambil kesempatan. Karena pada saat berlangsungnya acara tersebut akan banyak ahli-ahli tumbuhan dari seluruh dunia akan datang. “Jadi kita harus bangga anak-anak kita, anak Papua bisa presentasi dengan baik, terutama dalam menggunakan Bahasa Inggris dengan baik dan secara menyakinkan mereka bisa paparkan hasil penelitian mereka. Itu merupakan suatu  kerinduan kami sebagai tim maupun juga saya secara pribadi,” harapnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, bahwa program ini sudah disepakati akan menjadi program rutin, sehingga tiap tahun akan dibuat. “Kita merasa bahwa kebutuhan, talent scouting untuk mencari ilmuwan baru itu kan juga termasuk yang susah jadi, apa ilmuwan itu kan kita bisa dihitung dengan jari, apalagi di Papua sekarang yang notabene punya keanekaragaman hayati sumber daya alam budaya yang luar biasa, tetapi kita mau cari orang yang benar-benar mau mengikuti bidang tertentu dan menjadi ahlinya, itu kan susah, ” katanya.
Apalagi anak-anak asli Papua itu harus  betul-betul dipersiapkan, sehingga kata-kata yang sering dilontarkan menjadi tuan di rumah sendiri yang sedang persiapkan. “Bagaimana supaya kalau kita bicara sesuatu apa bidang ilmu pengetahuan dan teknologi itu yang jadi tuan rumah, begitu orang datang belajar kita kenapa harus kita belajar tumbuhan hewan harus kita pergi ke luar negeri sana, kadang kita yang punya sehingga akan menjadi catatan bagi kita bahwa sudah seharusnya kita berpikir untuk menyiapkan SDM,” tuturnya.
Ia berpesan kepada 10 Ilmuan Muda Papua ini agar apa yang sudah diberikan dan sudah didapat harus ingat, banyak yang terpanggil, tetapi sedikit yang terpilih, sehingga harus menjadi pegangan di dalam hati dan juga pikiran mereka. “Kami berharap bahwa mereka tidak akan puas saja di sini, tapi terus meningkatkan diri untuk mencapai apa yang diharapkan bersama. Bahwa menjadi seorang ilmuwan kan ya tidak sebatas ikut camp ini, tetapi dia harus terus belajar harus terus melatih diri begitu, terbuka dengan kesempatan-kesempatan yang ada pendidikan juga tidak hanya S1,S2, dan S3 begitu untuk bisa mencapai yang betul-betul kita harapkan, ” pungkasnya.(aa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.