Kementerian Kehutanan RI menggelar sosialisasi penyusunan rencana kerja Sub Nasional Indonesia’s Folu Net Sink 2030 yang dibuka secara langsung oleh Penjabat (Pj) Sekda Papua Pegunungan Wasuk D Siep di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. ANTARA/Yudhi Efendi.
WAMENA – Provinsi Papua Pegunungan memiliki luas wilayah sekitar 43.968,54 km². Provinsi ini beribu kota di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dan merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang tidak memiliki akses laut yang terletak di jajaran Pegunungan Jayawijaya bagian timur.
Provinsi Papua Pegunungan memiliki delapan kabupaten yakni Jayawijaya, Lanny Jaya, Tolikara, Nduga, Pegunungan Bintang, Yalimo, Yahukimo dan Mamberamo Tengah. Delapan kabupaten ini memiliki kawasan hutan tropis yang masih terjaga kelestariannya.
Luas hutan di wilayah Provinsi Papua Pegunungan 5.121.331,29 hektare yang terdiri dari hutan terbatas seluas 474.745,07 hektare atau 9,27 persen, hutan produksi seluas 341.866,48 hektare atau 6,68 persen dan dapat dikonversi seluas 2.510,71 hektare atau 9,81 persen, hutan lindung seluas 1.840.415,99 hektare atau 35,94 persen, hutan konservasi seluas 1.802.624,72 atau 35,20 persen.
Dengan kawasan hutan yang begitu luas, maka pemerintah pusat, melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI mendorong “Sub-Nasional Indonesia’s Folu Net Sink 2030″ atau target nasional di mana sektor kehutanan dan penggunaan lahan diproyeksikan menyerap lebih banyak karbon (net sink) daripada yang dilepaskan ke atmosfer pada tahun 2030, dengan angka -140 juta ton untuk mengendalikan perubahan iklim dan mendukung “net zero emission 2060″.
Keseriusan dukungan Kemenhut RI untuk menjaga kelestarian hutan di Provinsi Papua Pegunungan, salah satunya diwujudkan dengan sosialisasi “Sub-Nasional Indonesia’s Folu Net Sink 2030″ di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Kegiatan ini dihadiri seluruh pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten dan tokoh masyarakat serta adat di delapan kabupaten.
“Kami berharap pemerintah daerah dan seluruh komponen di Papua Pegunungan untuk sama-sama menjaga ekosistem hutan,” kata Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Perubahan Iklim Prof Haruni Krisnawati.
Butuh dukungan
Kawasan hutan di Papua Pegunungan ada sebagian telah dialihfungsikan menjadi perumahan, perkebunan dan pertanian masyarakat. Dengan demikian, dibutuhkan dukungan nyata dari pemerintah pusat melalui kementerian, lembaga atau badan teknis yang menangani masalah pengelolaan kawasan hutan berkelanjutan.
Kawasan yang telah berubah fungsi ini, ketika ingin dihijaukan kembali, membutuhkan dukungan anggaran, bukan hanya dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), tetapi juga dukungan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
“Kami harap bantuan pemerintah pusat untuk membantu reboisasi kawasan hutan di Papua Pegunungan,” ujar Gubernur Papua Pegunungan John Tabo.
Kawasan hutan di Provinsi Papua Pegunungan ataupun di Tanah Papua menjadi harapan terakhir Indonesia maupun dunia dalam membantu menurunkan gas karbon emisi rumah kaca. Hutan Papua Pegunungan menjadi “gerbong akhir” setelah kawasan hutan di Sumatera sering mengalami kebakaran karena disebabkan hutan hujan tropis tersebut dipenuhi gambut yang mudah terbakar.
Bagikan pohon
Guna membantu reboisasi kawasan hutan di wilayah Papua Pegunungan, Kemenhut RI membagikan pohon kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan. Pohon-pohon itu diserahkan secara simbolis oleh Dewan Penasehat Ahli “Indonesia’s Folu Net Sink 2030″ Kemenhut RI Ruanda Agung Sigardiman kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan (DLHKP) Papua Pegunungan Lince Kogoya.
Pemberian pohon tersebut menjadi harapan dan tindakan nyata oleh Kemenhut RI untuk kawasan hutan di Papua Pegunungan harus dijaga, dirawat dan dilindungi.
Sementara itu, implementasi dari program “Indonesia’s Folu Net Sink 2030″ ada tiga poin utama, yakni aksi mitigasi pengendalian emisi, mempertahankan hutan tetap lestari, dan menambah stok karbon.
Penyerahan tanaman atau pohon secara simbolis itu bertujuan untuk menambah stok karbon di wilayah Papua Pegunungan.
“Artinya untuk menambah tutupan-tutupan hutan di Papua Pegunungan perlu penanaman pohon secara aktif,” kata Dewan Penasehat Ahli Indonesia’s Folu Net Sink 2030 Kemenhut RI Ruanda Agung Sigardiman.
Oleh sebab itu melalui program Indonesia’s Folu Net Sink 2030, salah satu kegiatan utamanya untuk menambah tutupan hutan atau memperbanyak kayu atau pohon supaya kawasan hutan di Papua Pegunungan tetap terjaga baik.
Hutan di Papua Pegunungan menjadi salah satu “benteng” dalam menyukseskan program penurunan gas karbon emisi rumah kaca.
Untuk saat ini, Papua Pegunungan dan Pulau Papua secara umum, berfungsi sangat besar dalam upaya penurunan gas karbon emisi rumah kaca.
Bagi Ruanda, hutan Papua secara keseluruhan adalah “the last warrior” bagi stok karbon Indonesia karena tutupan hutannya masih di atas 70 persen.
Pulau Jawa yang padat penduduk atau 60 persen penduduk Indonesia berada di pulau itu, tutupan hutannya menyisahkan 18 persen. Dengan kondisi seperti ini produksi oksigen di Pulau Jawa itu sangat kurang untuk jumlah penduduk yang begitu banyak. Saat bersamaan, Kalimantan sudah mulai berkurang, Sumatera karena sering terjadi kebakaran menyebabkan tutupan hutannya pun mulai berkurang.
“Papua menjadi harapan Indonesia untuk tetap menjaga tutupan hutannya tetap asri,” kata Ruanda Agung Sigardiman.
Sosialisasi
Setelah kegiatan Sub Nasional Indonesia’s Folu Net Sink 2030, Pemprov Papua Pegunungan, melalui Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan (DLHKP) meningkatkan program sosialisasi dan pemberdayaan kepada masyarakat di delapan kabupaten untuk menjaga kawasan hutannya tetap lestari.
DLHKP Papua Pegunungan memiliki komitmen kuat dalam menjaga kawasan hutan di wilayah delapan kabupaten untuk tetap terawat baik dan lestari.
“Kami akan bentuk kesatuan pengelolaan hutan atau KPH di delapan kabupaten, yang tugasnya memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga hutan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHKP Papua Pegunungan Lince Kogoya.
Hutan di Papua Pegunungan maupun Tanah Papua secara umum menjadi pelindung terakhir atmosfer bumi dari gas karbon, sekaligus penguat oksigen bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya. Hutan juga menjadi paru-paru dunia yang menyalurkan oksigen kepada setiap makhluk hidup yang hidup di bumi.(ANTARA)