Tinggal di Asrama, Siswa SMTKN Pelita Sambab Tempuh Jarak dan Rindu Demi Prestasi

0

MANOKWARI,KLIKPAPUA.com– Jauh dari keluarga bukan hal mudah bagi sebagian pelajar. Namun, bagi Yabes Mikael Apoki, jarak justru menjadi jalan untuk meraih prestasi dan membentuk kemandirian.

Yabes Mikael Apoki adalah siswa kelas XI Sekolah Menengah Teologi Kristen Negeri (SMTKN) Pelita Sambab yang telah tinggal di asrama selama lebih dari satu tahun. Siswa asal Kebar, Kabupaten Tambrauw ini, bersama belasan siswa lainnya, menempati bangunan yang berada di lingkungan komplek sekolah, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari.

Yabes menceritakan aktivitas sehari-hari yang dijalani bersama teman-temannya berjalan sangat teratur. Mulai dari bangun pagi, mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah, hingga kembali ke asrama untuk beristirahat di malam hari. Kehidupan di asrama juga menuntut kedisiplinan tinggi, termasuk aturan pengumpulan perangkat seluler atau ponsel pada jam-jam tertentu.

“Di asrama ini kami dilatih disiplin, termasuk harus mengumpulkan ponsel pada waktu tertentu,” ujar Yabes.

Pada awal masa tinggal di asrama, Yabes mengaku sempat kesulitan beradaptasi. Lingkungan yang baru dan jauh dari keluarga membuatnya merasa asing. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menemukan ritme dan kenyamanan tersendiri.

Pengalaman hidup mandiri menjadi pelajaran berharga baginya. Tanpa didampingi orang tua, Yabes belajar mengatur segala kebutuhan sehari-hari secara mandiri, mulai dari keperluan sekolah hingga urusan pribadi di asrama.

Ia juga merasakan dampak positif yang nyata terhadap prestasi belajarnya. Lingkungan asrama yang kondusif dan lebih terkontrol membuat konsentrasinya jauh lebih baik dibandingkan jika tinggal di luar.

“Belajar jadi lebih fokus karena suasananya mendukung,” katanya.

Apa yang dialami Yabes bukanlah kebetulan semata, melainkan bagian dari upaya besar pihak sekolah. Semangat kemandirian dan kemudahan akses pendidikan yang ia rasakan sejalan dengan visi yang dibangun oleh kepemimpinan di sekolah tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala SMTKN Pelita Sambab, Willem Buiswarin, memandang asrama sebagai solusi nyata dan jembatan bagi siswa dari wilayah terpencil agar tetap bisa bersekolah. Bagi Willem, tantangan jarak yang dihadapi siswa harus dijawab dengan solusi konkret, dan asrama menjadi jawabannya.

“Sebagian besar penghuni asrama merupakan siswa-siswi yang berasal dari wilayah jauh seperti Amberbaken dan Kabupaten Tambrauw, daerah yang sulit menjangkau pendidikan jika harus pulang-pergi setiap hari,” jelasnya.

Willem Buiswarin menambahkan, bangunan asrama yang saat ini digunakan merupakan bekas gedung sekolah yang dialihfungsikan, setelah sekolah di bawah naungan Kementerian Agama Provinsi Papua Barat tersebut menempati gedung permanen baru. Meski begitu, ia mengakui bahwa pengelolaan asrama saat ini masih bersifat sementara dan sangat membutuhkan dukungan lebih lanjut.

“Kami berharap ke depan ada payung hukum yang jelas agar pengelolaan asrama bisa berjalan lebih optimal dan tertib,” ujarnya.

Kisah Yabes dan teman-temannya pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang tinggal di asrama. Ini adalah potret nyata tentang perjuangan, tentang jarak yang ditempuh bukan hanya secara geografis, tetapi juga perjalanan panjang menuju kedewasaan.

Dari SMTKN Pelita Sambab, sebuah pelajaran sederhana kembali ditegaskan: bahwa di balik keterbatasan, selalu ada ruang untuk tumbuh. Bagi mereka yang berani menjalaninya, jarak bukanlah penghalang, melainkan jembatan emas menuju masa depan yang lebih cerah.(rls/red)


Komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses