
MANOKWARI,KLIKPAPUA.com- Institut Ilmu Hukum dan Teknologi Pembangunan Papua (IHTP) menggelar rapat kerja (raker) pertama di Kampus Sanggeng, Rabu (29/7/2026).
Raker yang dipimpin Rektor IHTP, Dr. Filep Wamafma, itu dihadiri Wakil Rektor (Warek) II, Dr. Enny M. Sasea, dan Warek III, Dr. Isak S.K. Wansawan, hingga para dosen IHTP.
Filep Wamafma mengatakan, raker pertama ini digelar dalam rangka orientasi struktur organisasi yang mengalami perubahan, termasuk penambahan struktur baru serta penyesuaian nomenklatur mengikuti perkembangan saat ini.
“Struktur kita ini kan mengalami perubahan, ada struktur-struktur baru, ada nomenklatur yang diikuti perkembangan saat ini. Jadi, masing-masing struktur harus memahami tugas pokok dan fungsinya (tupoksi),” ujarnya.
Ia menuturkan, seluruh jajaran struktural dituntut memahami bahwa saat ini, khususnya di sektor swasta, inovasi dan kreasi menjadi kebutuhan utama.
Karena itu, ia menekankan agar seluruh Kepala Bagian (Kabag), Kepala Subbagian (Kasubbag), dan Ketua Program Studi (Kaprodi) mampu bekerja layaknya seorang manajer.
“Kita harus mengikuti dinamika perkembangan hari ini. Kampus-kampus kita termotivasi dengan stigma bahwa Papua tertinggal dan terbelakang, yang arahnya kepada pendidikan. Output dari pendidikan belum berdampak terhadap penurunan kemiskinan,” ungkapnya.
Filep menegaskan, pihaknya ingin lulusan IHTP ke depan tidak menambah beban kemiskinan, melainkan membuka peluang kerja baru.
“Kita ingin lulusan kita ke depan tidak berorientasi sebagai PNS, kita ingin orientasi dunia kerja. Hari ini kita akan bahas secara detail, sehingga di semester baru ini kita sudah mengarahkan mahasiswa lebih kepada dunia kerja,” katanya.
Ia menambahkan, dirinya ingin mendedikasikan pikiran dan tenaga agar IHTP sebagai perguruan tinggi swasta (PTS) tidak hanya menyelenggarakan pendidikan, tetapi juga bermutu, sehingga pendidikan di Papua tidak lagi dipandang sebelah mata.
“Kita harus bersaing secara terbuka, bersaing dengan ide dan konsep dengan perguruan tinggi lain di Tanah Papua,” tegasnya.
Filep mengungkapkan, pihak kampus telah membentuk Lembaga Inovasi dan Kreatif yang bertugas membentuk karakter mahasiswa dan dosen agar lebih aktif mengikuti kegiatan penelitian, baik di tingkat lokal maupun internasional.
“Secara infrastruktur kita sudah siap, begitu juga dengan sumber daya manusia (SDM) kita,” ujarnya.
Ia menegaskan, perubahan status menjadi institut bukan sekadar perubahan nama, melainkan bentuk komitmen untuk menjawab kebutuhan sekaligus mengangkat kualitas pendidikan di Papua Barat. (dra)




















