BINTUNI,KLIKPAPUA.com– Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, melepas 17 calon jamaah haji asal daerah tersebut pada Selasa (5/5/2026).
Para jamaah dijadwalkan bertolak ke Manokwari sebelum bergabung dengan rombongan kabupaten lain menuju embarkasi Makassar pada 9 Mei 2026.
Dalam sambutannya, Bupati Yohanis Manibuy menyampaikan lima pesan penting kepada para calon jamaah.
Pertama, menjaga kesehatan fisik dan mental mengingat ibadah haji membutuhkan ketahanan tubuh dan kesiapan diri.
Kedua, meningkatkan kualitas ibadah dengan menjaga kekhusyukan serta mengikuti tuntunan syariat.
Ketiga, para jamaah diminta memelihara kebersamaan dan kekompakan dalam kelompok terbang (kloter) dengan saling membantu dan menguatkan.
Keempat, menjaga sikap dan nama baik daerah sebagai representasi masyarakat Teluk Bintuni yang religius, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilai kebaikan.
“Perbanyak doa dan mohon keberkahan, tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi juga untuk Kabupaten Teluk Bintuni,” pesan Bupati.
Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Teluk Bintuni, Abdul Muin, mengatakan jumlah calon jamaah haji tahun ini mengalami penurunan signifikan. Jika biasanya mencapai 37 orang, tahun ini hanya 17 jamaah yang diberangkatkan.
“Terjadi pengurangan sebanyak 20 orang. Hal ini berkaitan dengan penyesuaian kebijakan, di mana pemerintah mendahulukan jamaah yang telah mendaftar sejak 2011 dan 2012,” ujar Abdul Muin.
Ia menjelaskan, rata-rata waktu tunggu jamaah asal Teluk Bintuni sekitar 13 tahun, dengan pendaftar sejak 2015 hingga 2016. Sementara di sejumlah daerah lain, masa tunggu bahkan mencapai 31 tahun.
Menurutnya, kebijakan tersebut diambil untuk pemerataan antrean nasional, dengan mengalihkan sebagian kuota dari daerah yang masa tunggunya lebih singkat ke daerah dengan antrean lebih panjang.
Abdul Muin berharap masyarakat dapat memahami kebijakan tersebut. Ke depan, pemerintah berencana menyeragamkan masa tunggu haji secara nasional menjadi sekitar 26 tahun.
“Dengan penyeragaman ini, masyarakat tidak perlu lagi mendaftar di daerah lain. Cukup di daerah masing-masing karena waktu tunggunya akan sama,” katanya.
Ia juga menyoroti fenomena adanya warga dari luar daerah yang mendaftar di Teluk Bintuni, kemudian kembali ke daerah asal sambil menunggu panggilan berangkat, sehingga kurang terjalin kebersamaan dengan jamaah lainnya. (red)





















