MANSEL,KLIKPAPUA.com– Universitas Papua (Unipa) menerjunkan mahasiswa dalam kegiatan Training for Unipa Student’s Survei Herpetofauna New Guinea di hutan alam Kampung Mambrema dan Yamboi Gunung, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel), Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Unipa, PT Freeport Indonesia, dan Australian Museum, yang bertujuan melakukan penelitian sekaligus pelatihan bagi mahasiswa di bidang herpetofauna.
Ketua Tim Peneliti Unipa, Dr. Kellyopas Krei, mengatakan penelitian tersebut telah dilakukan di sejumlah wilayah di Papua Barat sebelum dilanjutkan di Mansel.
“Penelitian ini sudah dilakukan di beberapa kabupaten seperti Tambrauw dan Pegunungan Arfak, dan sekarang dilaksanakan di Manokwari Selatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada survei lapangan, tetapi juga memberikan pelatihan teknis kepada mahasiswa, mulai dari pengumpulan data, pengambilan sampel, hingga analisis DNA.
“Mahasiswa juga dilatih agar mampu mengembangkan hasil penelitian ini menjadi skripsi,” tambahnya.
Selain itu, mahasiswa juga mendapat pembekalan penulisan ilmiah dan publikasi dari peneliti internasional, Dr. Stephen Richards dari South Australian Museum.
Tim peneliti juga melibatkan masyarakat setempat dalam kegiatan survei. Warga akan mendapatkan transfer pengetahuan, seperti pengenalan nama Latin flora dan fauna, serta penguatan kapasitas dalam mengelola potensi sumber daya alam di wilayah tersebut.
“Hasil survei ini nantinya tidak hanya untuk kebutuhan akademik mahasiswa, tetapi juga menjadi data yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dalam pembangunan berkelanjutan, termasuk pengembangan ekowisata, perhutanan desa, dan hutan adat,” jelasnya.
Sementara itu, Staf Bupati Bidang Pemerintahan Kabupaten Manokwari Selatan, Anwar S. Mandatjan, mengapresiasi pelaksanaan penelitian tersebut.
Menurutnya, hasil penelitian dari tim Unipa diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan potensi hutan di Kampung Mambrema dan Yamboi, baik untuk sektor pariwisata maupun hasil hutan bukan kayu (HHBK).
“Data yang dihasilkan diharapkan mampu mendorong pengembangan komoditas unggulan masyarakat serta memperkuat ekonomi kerakyatan di wilayah ini,” tandasnya.


















