
MANOKWARI,KLIKPAPUA.com- Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat mencatat inflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Maret 2026, yang bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idulfitri.
Angka tersebut disampaikan Kepala BPS Papua Barat, Merry dalam rilis resmi BPS Papua Barat di Manokwari, Rabu (1/4/2026).
Dikatakan, berdasarkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik dari 110,04 pada Februari 2026 menjadi 110,10 pada Maret 2026.
“Secara tahunan (year on year/yoy), Papua Barat mengalami inflasi sebesar 3,51 persen,” kata Merry
Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,71 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi pada kelompok pendidikan sebesar 3,99 persen.
Sementara itu, secara tahun kalender (year to date/ytd), Papua Barat tercatat mengalami deflasi sebesar 0,58 persen.
BPS mencatat, penyumbang utama inflasi secara mtm pada Maret 2026 berasal dari kelompok pakaian dan alas kaki dengan andil sebesar 0,08 persen.
“Komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok ini antara lain celana panjang jeans pria dengan andil 0,02 persen, serta baju muslim wanita dan ongkos jahit masing-masing sebesar 0,01 persen,” kata
Di sisi lain, kelompok makanan dan minuman mengalami deflasi sebesar 0,29 persen. Komoditas yang berkontribusi terhadap deflasi antara lain ikan cakalang sebesar 0,16 persen, tomat 0,08 persen, ikan tuna 0,05 persen, serta minyak goreng 0,04 persen.
Untuk wilayah Papua Barat Daya, BPS mencatat inflasi sebesar 1,04 persen secara mtm dan 4,09 persen secara yoy pada periode yang sama.
Penyumbang utama inflasi mtm di Papua Barat Daya berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,22 persen.
Sementara itu, komoditas seperti cabai rawit, ikan tuna, dan ikan kembung tercatat memberikan andil deflasi pada kelompok tersebut.
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang utama inflasi di Papua Barat dengan andil sebesar 1,92 persen, didorong oleh kenaikan harga beras, cabai rawit, dan tomat.
Adapun di Papua Barat Daya, kelompok yang sama menyumbang inflasi yoy sebesar 2,78 persen, dengan komoditas utama pemicu inflasi antara lain cabai rawit, ikan tuna, dan ikan kembung. (dra)




















