Sekda Buka Raker Klasis XI dan Musyawarah Pelayanan Wadah -Wadah Kategorial GPI 

0
39
Mewakili Bupati Teluk Bintuni, Sekda Gustaf Manuputty membuka Rapat Kerja (Raker) XI dan musyawarah pelayanan wadah -wadah kategorial Gereja Protestan Indonesia (GPI) Teluk Bintuni tahun 2019.(Humas Setda Bintuni/klikpapua.com)

BINTUNI,KLIKPAPUA.COM — Mewakili Bupati Teluk Bintuni, Sekretaris Daerah (Sekda), Gustaf Manuputty membuka secara resmi Rapat Kerja (Raker) XI dan musyawarah  pelayanan wadah -wadah kategorial Gereja Protestan Indonesia (GPI) Teluk Bintuni tahun 2019 di Kampung Suga Distrik Kaitaro, Minggu (20/10/2019).

Sesui siaran pers Humas dan Protokoler Setda Teluk Bintuni, dalam sambutanya Sekda Gustaf Manuputty mengatakan, dewasa ini, gereja perlu mentransformasikan misi dan panggilanya agar dapat berkembang menjadi salah satu garda terdepan dalam menyuarakan terang dan kebenaran sesuai panggilanya.

“Berkaca dari sejarah perkembangan gereja sepanjang zaman dan belajar dari pengajaran Alkitab sebagai dasar pijakan utama kehidupan, maka keberadaan gereja mestinya membuka diri terhadap tantangan dunia ini,” katanya.

Dengan mengusung tema “Rapi tersusun dan Diikat Menjadi Satu”, Sekda mengatakan makna tema rapat Klasis GPI sangat faktual untuk menjawab kebutuhan Gereja saat ini.

Pasalnya, melalui kesatuan hidup yang lahir bukan karena liturgy atau organisasi melainkan karena iman kepada Yesus, batu penjuru Gereja dan GPI Papua sebagai orang orang yang percaya kepada-nya merupakan batu -batu hidup yang rapi tersusun dan didikat menjadi satu untuk kemuliaan nama Tuhan.

Lanjut Gustaf, mengutamakan persatuan dalam menjalankan pelayanan dan pekerjaan adalah pondasi dasar yang diyakini dapat menembus perbedaan dalam masyarakat yang plural sekaligus mempersatukan.” Jika kita melayani dengan kasih, otomatis akan tercipta suatu hubungan yang harmonis antara pemerintah, adat dan agama.

Untuk itu, dalam bingkai hubungan yang harmonis inilah, secara khusus saya sampaikan terima kasih dan apresiasi atas nama pemerintah daerah atas partisipasi dan keikutsertaan GPI Papua khususnya Klasis Teluk Bintuni dalam Pembangunan sebagai mitra kerja pemerintah terutama dalam membina masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang baik tersebut, Sekda juga mengajak seluruh komponen GPI Papua Klasis Teluk Bintuni baik Badan Pekerja Klasis, para pelayan friman, penatua dan syamas serta seluruh jemaat agar terus bergandengan tangan dengan pemerintah daerah dalam membangun Kabupaten Teluk Bintuni, agar lebih baik kedepan. Terutama dalam membaharui kualitas pendidikan dan pembinaan, mewujudkan pertumbuhan spiritualitas, kemandirian, kesejahteraan, perdamaian dan kebersamaan baik sebagai gereja maupun sebagai masyarakat.

Rapat kerja GPI Klasis Teluk Bintuni merupakan momentum yang baik bagi seluruh anggota badan wilayah, daerah dan jemaat GPI Papua Klasis Teluk Bitnuni untuk melakukan perubahan dan evaluasi program pelayanan, APB GPI Papua Klasis Teluk Bintuni tahun 2020 serta serta rancangan program pelayanan tahun 2020.

“Besar harapan saya, agar rapat kerja ini dapat menghasilkan keputusan keputusan yang signifikan bagi pembentukan jemaat Tuhan yang makin mengenal dan mengasihi Tuhan di Klasisi Teluk Bintuni pada khususnya dan dalam cakupan yang lebih luas sehingga dapat turut membentuk masyarakat Teluk Bintuni yang maju, produktif dan berdaya saing,” harap Sekda.

Sementara itu, Wakili Ketua III Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua, Sahulata mengungkapkan, rapat kerja dan musyawarah pelayanan wadah wadah ini bukan sebuah ajang pengadilan, namun ruang evaluasi.

“Mari bersama sama mengevaluasi program program untuk dijalankan tahun yang baru nanti. Dan ketika program tersebut berhasil nantinya, merupakan keberhasilan kita semua,” katanya.

Untuk itu, ada beberpa hal yang ia  sampaikan, yang pertama, dalam menyusun program harus yang rasional agar bisa dilakukan. Kemudian, jangan lupa lembaga ini adalah mitra pemerintah, sehingga sinkronisasi program harus sejalan dengan programnya pemerintah.

Terakhir tahun 2020 merupakan tahun politik, semua harus tetap bersatu tidak boleh termakan isu – isu hoax, serta tidak boleh saling menjatuhkan.

“Maka sebagai pelayan dan hamba Tuhan, kita memiliki tangunggjawab bersama bukan saja pada diri tetapi juga pada umat agar tidak terperangkap dalam berita bohong. Kalau ada berita seperti itu, kaji dengan baik dan cari tau kebenaranya setelah itu hadapi secara bijak. Karena berita hox dan lain lain akan merugikan kita semua,” ujar Sahulata.(at)

Editor: BUSTAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.