Tingkatkan Produktivitas Kelompok Nelayan, Tim Pengabdian UMPB Serahkan Teknologi “Fish Finder” Canggih

0

MANOKWARI,KLIKPAPUA.com – Nelayan tradisional di Papua Barat sering menghadapi tantangan besar dalam menentukan lokasi ikan yang tepat. Ketidakpastian ini menyebabkan pemborosan waktu dan bahan bakar, serta hasil tangkapan yang tidak menentu.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB) menyerahkan bantuan teknologi Fish Finder Garmin GPSMAP 585 Plus kepada Kelompok Nelayan Mina Bahari Aimasi Sejahtera (MBAS) di Kampung Aimasi, Kabupaten Manokwari.

Penyerahan alat ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Kemitraan Masyarakat tahun 2026, yang didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia.

Ketua Pelaksana Program dari UMPB, Sigit Prafiadi menjelaskan, bahwa selama ini kelompok nelayan MBAS beroperasi dengan mengandalkan metode tradisional, seperti insting dan tanda-tanda alam untuk menentukan titik penangkapan ikan. Akibatnya, akurasi penentuan lokasi sangat rendah, hanya sekitar 30 persen. Hal ini menyebabkan waktu dan biaya operasional yang besar terbuang sia-sia.

“Kondisi eksisting di lapangan menunjukkan bahwa nelayan menghabiskan 60 hingga 70 persen waktu melaut dan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 80 liter per perjalanan hanya untuk proses pencarian ikan. Hasil tangkapan pun sangat fluktuatif, antara 15 hingga 50 kilogram per perjalanan. Ini jelas tidak efisien dan membuat pendapatan nelayan tidak stabil,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Teknologi Fish Finder Garmin GPSMAP 585 Plus yang diserahkan hadir sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Alat ini dilengkapi dengan fitur GPS/GLONASS/BeiDou untuk navigasi presisi, Sonar CHIRP dan ClearVü yang mampu menampilkan gambar bawah air dengan jelas seperti foto, serta kemampuan menyimpan hingga 12.000 titik lokasi (waypoint).

Dengan alat ini, nelayan tidak lagi “buta” saat melaut. Mereka dapat merencanakan rute perjalanan dan secara akurat mengetahui lokasi serta kedalaman gerombolan ikan secara real-time.

“Harapannya, dengan bantuan teknologi ini, nelayan dapat mengurangi waktu pencarian hingga 40 persen, menghemat biaya BBM hingga 20 persen, dan meningkatkan hasil tangkapan secara signifikan. Efisiensi ini akan langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga nelayan,” tambahnya.

Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada penyerahan alat, tetapi juga mencakup pelatihan intensif bagi nelayan. Para anggota Kelompok MBAS dibekali kemampuan untuk mengoperasikan alat, membaca data sonar, dan mengintegrasikan teknologi ini ke dalam operasional penangkapan ikan sehari-hari. Pendampingan lapangan juga akan dilakukan untuk memastikan teknologi ini dapat diadopsi dan dimanfaatkan secara maksimal.

Kelompok Nelayan MBAS menyambut baik inisiatif ini. Mereka berharap dengan adanya teknologi canggih ini, beban biaya operasional bisa ditekan dan hasil tangkapan menjadi lebih optimal, sehingga taraf hidup para nelayan di pesisir Manokwari dapat meningkat.

Program ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menjawab tantangan pemberdayaan di daerah, sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).(rls/red)


Komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses