MRPB dan Masyarakat Menolak 2 Pasien Covid-19, Bupati Manokwari: Tim Gugus Provinsi Tidak Koordinasi

0
876
Puluhan masyarakat Sowi Gunung bersama MRPB penolakan dua pasien positif Covid-19 untuk diisolasi di gedung Balai Latihan Koperasi (Balatkop) dan UMKM Papua Barat. (Foto: Aufrida/klikpapua)
MANOKWARI,KLIKPAPUA.COM– Puluhan masyarakat Sowi Gunung, Kabupaten Manokwari, melakukan aksi penolakan terhadap dua pasien positif Covid-19 untuk diisolasi di gedung Balai Latihan Koperasi (Balatkop) dan UMKM Papua Barat, Jumat (17/4/2020).
Masyarakat menolak karena ada warga yang tinggal di belakang kantor tersebut. Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) juga menolak adanya pasien Covid-19 di lingkungan kantor MRPB. Hal itu sesuai spanduk yang dibentangkan pada pintu gerbang masuk Balatkop dan UMKM.
Spanduk tersebut tertulis “MRP Papua Barat Bukan tempat Isolasi Pasien Covid-19, MRP Papua Barat menolak Karantina Pasien Covid-19 di lingkungan kantor MRPB, tidak ada koordinasi dari pihak terkait.”
Menyikapi aksi penolakan, Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan kepada wartawan mengatakan, penolakan terjadi karena tidak adanya koordinasi antara Satgas Papua Barat dengan MRPB.
Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan. (Foto: Aufrida/klikpapua)
Kurangnya koordinasi ini yang telah menimbulkan keributan dan penolakan dari MRPB bersama masyarakat sekitar. “Tadi juga saya sempat emosi mengira MRPB yang menolak karena sudah ada koordinasi, namun ternyata dari provinsi belum melakukan koordinasi baik,“ ungkapnya.
Karena ada penolakan, dua pasien tersebut dipindahkan ke Rumah Sakit Provinsi. “Saya sudah koordinasi bersama gubernur, semua di fokuskan di sana (RS Provinsi,red), karena sudah ada 150 tempat tidur. Sedangkan untuk rumah sakit rujukan (RSUD Manokwari,red) itu untuk yang sakit, tidak bisa semua, karena kalau sampai semua pasien OTG kita tampung di rumah sakit maka akan penuh,” tuturnya.
Ketua MRP Papua Barat Maxsi N Ahoren via telepon mengatakan, pihaknya baru mendapat informasi pukul 9 pagi, sehingga dirinya bersama beberapa anggota turun dan melakukan pemalangan, karena kedua pasien sudah berada di lingkungan kantor.
“Saat menempatkan dua pasien tersebut tidak ada koordinasi dengan kami, setidaknya ada informasi yang disampaikan kepada lembaga, agar kami juga bisa menyampaikan kepada masyarakat sekitar yang ada di sini, dalam arti ada RT, RW,“ tuturnya.
Karena tidak adanya koordinasi maka pihaknya bersama masyarakat secara spantan melakukan penolakan terhadap dua pasien tersebut. (aa/bm)
Editor: BUSTAM
 
 
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.