Didampingi Wabup Mansel, Gubernur PB Melepas 10 Ton Biji Kakao Tujuan Surabaya

0
70
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan kembali melakukan pengapalan (pelepasan) 10 ton biji kakao kering asal Ransiki ke Surabaya, Sabtu (25/9/2021).(Foto: Aufrida/klikpapua)
MANOKWARI,KLIKPAPUA.com—Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan didampingi Wakil Bupati Manokwari Selatan Wempi Welly Rengkung kembali melakukan pengapalan biji kakao kering asal Koperasi Ebier Suth Cokran Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan.
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan hari ini kembali dilakukan Pengapalan (pelepasan) 10 ton biji kakao kering Ransiki yang merupakan Komoditas Unggulan Daerah ke PT. Cargill Indonesia Surabaya sebanyak 10.500 kg (10,5 ton), dan Jika Chocolate Jakarta sebanyak 400 Kg.
Sebelumnya pada 19 Februari 2021 dirinya juga melepas pengapalan 12 ton biji kering kakao Ransiki kualitas premium tujuan Jakarta, dan sekaligus peletakan batu pertama pembangunan pusat riset dan inovasi kakao dan kopi di Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Demikian disampaikan Gubernur Papua Barat saat melakukan pengapalan biji kakao kering di Pelabuhan Manokwari, Sabtu (29/9/2021).
Dikatakan Gubernur, bahwa ini merupakan bukti nyata, jika dilakukan dengan sepenuh hati dan keiklasan dalam berusaha dan bekerja, akan membuahkan hasil yang membanggakan, apalagi dilakukan dengan kolaborasi yang baik dari berbagai pihak.
“Ini adalah sebuah contoh kerjasama yang baik, bagaimana peran pemerintah, baik provinsi, kabupaten, mitra pembangunan, koperasi, petani dan pembeli, tentunya dibutuhkan kepemimpinan untuk mengkoordinir semua proses agar bisa berjalan sesuai rencana,” ungkapnya.
Pengembangan kakao sebagai salah satu komoditas lokal unggulan non deforestasi di Papua Barat, lanjut Gubernur, adalah program prioritas dan kebijakan utama Pemerintah Provinsi Papua Barat dalam rangka pembangunan berkelanjutan.
Rencana pengembangan komoditas ini telah menjadi perhatian dan telah disusun dalam grand disain investasi hijau papua barat dan peta jalan pengembangan komoditas unggulan non deforestasi.  “Dan untuk lebih mengefektifkan upaya-upaya ini, saya telah memerintahkan untuk dibentuk satuan tugas komoditi unggulan yang beranggotakan para pihak dari sektor hulu sampai hilir,” tandasnya.
Gubernur juga menyampaikan,  untuk lebih meningkatkan hasil produksi dan nilai tambah produk kakao perlu, pertama, segera disusun rencana induk pengembangan dan rencana usaha (bisnis plan), sehingga lebih terarah, efisien dan efektif pengembangan komoditas ini.
Kedua, kepada OPD teknis terkait di Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Manokwari Selatan untuk mengambil peran lebih besar dalam pembinaan petani kakao Orang Asli Papua (OAP) khususnya para pemuda anak-anak sebagai Petani Milenial, sehingga akan lebih cepat peningkatan produksi, pendapatan dan kesejahteraan.
Ketiga, kepada pihak Perbankan mohon bantuannya untuk dapat memberikan asistensi atau kontribusi dalam rangka peningkatan kapasitas produksi nilai tambah kakao dan kesejahteraan petani di kabupaten manokwari selatan.
Keempat, perlu dukungan semua pihak untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan industri dan ekonomi kreatif dan inovatif, terutama di kalangan petani dan juga bagaimana memperbaiki rantai pasok, sehingga lebih murah biaya pengiriman dan akan meningkatkan harga produk di tingkat petani.
“Pada kesempatan ini, saya atas nama Pemerintah Provinsi Papua Barat menyampaikan terima kasih kepada pihak Pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan, Koperasi Ebier Suth, Satuan Tugas Pengembangan Komoditas Kakao, Pemerintah Daerah Papua Barat dan semua pihak yang telah mendukung, membantu dan terlibat dalam proses pelepasan (pengapalan) biji kakao kering,” pungkasnya.
Koordinator Mitra Pembangunan Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si dalam laporannya menyampaikan perkembangan kakao kering dari Manokwari Selatan. Dimana data produksi biji kakao kering tahun 2017 – 2021 sebesar 146.299 kg/2.364 karung atau 146,29 ton. Data Pengiriman tahun 2021 (Januari – September) total sebesar 268.847 kg/4319 karung atau 268,8 ton dengan tujuan Jika Chocolate Jakarta, PT  Cargill Indonesia Surabaya, Pipiltin Cocoa, PT Delfia Prima Jayap.  “Dengan total income Rp 8.389.007.300,- (8,3 Miliar),” tutur Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat ini. (aa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.