Asap Sampah Ganggu Jarak Pandang Pilot, UPBU Bandara Rendani Imbau Warga Tak Bakar Sampah

0

MANOKWARI,KLIKPAPUA.com- Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rendani Manokwari mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah maupun daun kering selama musim kemarau.

Sebab, gumpalan asap akibat pembersihan lahan dan pembakaran sampah dilaporkan mengganggu jarak pandang (visibility) pilot saat hendak mendaratkan pesawat di Bandara Rendani.

Kepala UPBU Bandara Rendani Manokwari Herman Sujito mengungkapkan, keluhan dari para pilot telah diterima sejak 9 Agustus 2026. Keluhan tersebut disampaikan langsung melalui AirNav Indonesia dan diteruskan ke pihak bandara.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran apa pun, baik sampah rumah tangga maupun daun-daun kering. Di musim kemarau ini, rumput dan daun sangat kering sehingga pembakaran kecil bisa memicu gumpalan asap tebal yang mengancam keselamatan penerbangan,” tegas Herman saat ditemui, Jumat (21/8/2026).

Herman menjelaskan, gangguan asap paling dominan dirasakan pilot dari arah selatan atau area atas laut, yang merupakan lintasan utama proses pendaratan (final approach).

Dalam kondisi normal, pilot sudah dapat melihat landasan pacu (runway) pada jarak tertentu. Namun, akumulasi gumpalan asap membuat landasan tidak terlihat dari jarak yang seharusnya.

“Petugas di lapangan sebenarnya sudah berupaya maksimal membantu dengan menyalakan lampu pendaratan (lighting system). Namun, intensitas gumpalan asap membuat pencahayaan tersebut kurang maksimal,” terangnya.

Meski belum sampai memicu penundaan penerbangan (delay) secara signifikan atau pengalihan rute (divert) ke bandara lain, gangguan asap ini dinilai berisiko tinggi karena mengganggu konsentrasi pilot.

Bahkan, tercatat ada insiden pesawat yang terpaksa mengubah arah pendaratan dari arah utara akibat keterbatasan jarak pandang di titik pendaratan selatan.

“Pada 20 Agustus kemarin, kami kembali menerima laporan serupa dari pilot pesawat perintis Susi Air yang mengeluhkan hal yang sama. Mereka belum bisa melihat landasan pada jarak yang semestinya,” tambah Herman.

Menanggapi situasi ini, pihak UPBU Bandara Rendani telah berkoordinasi secara resmi dengan Pemerintah Kabupaten Manokwari melalui surat yang dikirimkan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan pada 13 Agustus 2026.

Langkah ini diambil setelah petugas mengidentifikasi adanya kepulan asap hitam di area perbukitan sekitar ruang udara penerbangan.

“Kami sangat mengharapkan bantuan dari seluruh pihak dan masyarakat. Mari kita cegah bahaya pendaratan pesawat dengan menghentikan pembakaran sampah dan mencari metode pengelolaan sampah yang lebih aman selama musim kemarau,” ujar Herman. (mel)


Komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses