KARIMUN,KLIKPAPUA.com– Proyek strategis nasional Tangguh Ubadari, CCUS, Compression (UCC) mencatatkan tonggak sejarah penting. Jacket pertama dari empat konstruksi lepas pantai telah rampung dibangun dan resmi diberangkatkan dari Saipem Karimun Yard, Kepulauan Riau, menuju lokasi pemasangan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menempuh perjalanan laut sejauh kurang lebih 5.800 kilometer.
Peresmian pemberangkatan ditandai dengan acara simbolis yang dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Pierangelo Abela (President Director Saipem Indonesia), Undani (Kantor Wilayah Khusus Bea Cukai Papua), Surya Widyantoro (Deputi Eksploitasi SKK Migas), Kathy Wu (bp Regional President Asia Pacific), Iskandarsyah (Bupati Karimun), serta Alastair Anderson (bp VP Projects Asia Pacific).
Konstruksi raksasa ini merupakan hasil kerja keras yang melibatkan 357.600 jam kerja, dengan berat mencapai 994 metrik ton. Pencapaian ini sekaligus menegaskan komitmen kuat terhadap standar keselamatan, kualitas, serta penguasaan kapabilitas nasional dalam industri energi.
“Jacket ini dibuat di Indonesia, oleh orang Indonesia, untuk Indonesia. Hal ini menegaskan komitmen kuat bp terhadap ketahanan energi nasional, pembangunan kapabilitas, serta membuka peluang bagi rantai pasok Indonesia, dalam perjalanan operasi kami selama 60 tahun di negara ini,” ujar Kathy Wu dalam sambutannya.
Pabrikasi konstruksi ini dilaksanakan sepenuhnya di Karimun Yard, galangan kapal yang selama puluhan tahun menjadi andalan dalam pembangunan seluruh instalasi lepas pantai proyek Tangguh LNG, serta berbagai proyek bp lainnya di kancah internasional.

Dalam pelaksanaannya, proyek Tangguh UCC menerapkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 45%. Tidak hanya pada struktur utama, penggunaan produk lokal juga meluas ke berbagai aspek: peralatan utama seperti jacket dan topside difabrikasi di galangan kontraktor di Karimun; seluruh jaringan pipa lepas pantai diproduksi di Jawa Timur; sejumlah modul darat sedang dibangun di Bintan dan Batam oleh pembuat modul dalam negeri; hingga komponen pendukung seperti instrumen, peralatan listrik, perpipaan, dan mesin-mesin yang dipasok oleh produsen Indonesia.
Kathy Wu juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan pemerintah Indonesia. “Kami berterima kasih kepada pemerintah Indonesia, termasuk Kementerian ESDM dan SKK Migas, atas dukungan yang senantiasa diberikan. Sebagai mitra strategis energi Indonesia selama 60 tahun, kami percaya kemitraan ini akan terus berlanjut untuk membantu Indonesia mencapai ketahanan energi,” tambahnya.
Acara ini juga menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi seluruh tenaga kerja, kontraktor, mitra usaha, dan pemangku kepentingan yang terlibat. Keberhasilan penyelesaian konstruksi ini menandai langkah krusial menuju penyelesaian seluruh instalasi lepas pantai Tangguh UCC.
Sebagai informasi, proyek Tangguh UCC merupakan pengembangan lapangan gas Ubadari yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture, Utilisation and Storage (CCUS) serta fasilitas kompresi darat. Ini menjadi proyek CCUS skala besar pertama yang dikembangkan di Indonesia, yang berpotensi menyimpan sekitar 15 juta ton emisi karbon dioksida (CO₂) serta menghasilkan tambahan pasokan gas sebesar 3 triliun kaki kubik. Proyek ini akan memperkuat infrastruktur Tangguh LNG yang sudah ada di Papua Barat, guna memenuhi kebutuhan energi jangka panjang bagi Indonesia maupun kawasan Asia.(rls/red)





















