MANOKWARI,KLIKPAPUA.com– Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Manokwari menjadi momentum penting bagi penguatan karakter peserta didik.
Pemerintah secara tegas mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan nyaman, serta bebas dari segala bentuk perundungan (bullying) dan kekerasan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Bupati Manokwari, Hermus Indou, saat membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam upacara Hardiknas yang berlangsung khidmat di halaman Kantor Bupati Manokwari, Sabtu (2/5/2026).
Dalam pidato tersebut, Bupati Hermus menekankan bahwa transformasi pendidikan tidak akan mencapai hasil maksimal jika siswa merasa terancam atau tidak nyaman di sekolah.
Oleh karena itu, penguatan karakter menjadi salah satu dari lima kebijakan strategis nasional yang kini tengah diprioritaskan.
“Transformasi pendidikan harus dimulai dari rasa aman. Kita ingin menciptakan sekolah yang tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga menjunjung tinggi nilai inklusivitas dan saling menghargai,” ujar Hermus.
Pemerintah juga mendorong penerapan program “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Program ini dirancang untuk membangun kedisiplinan dan empati siswa melalui kegiatan Pramuka serta pembelajaran berbasis pengalaman yang mengajarkan etika dan kerja sama tim.
Isu perundungan mendapat perhatian khusus dalam peringatan tahun ini. Pemerintah menargetkan setiap satuan pendidikan menjadi kawasan yang benar-benar bersih dari kekerasan fisik maupun verbal.
Hal ini dianggap krusial mengingat dampak psikologis perundungan dapat menghambat potensi besar yang dimiliki anak bangsa.
Bupati Hermus menambahkan bahwa dalam 18 bulan terakhir, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah membangun fondasi kuat melalui kolaborasi antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Menurutnya, sekolah tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga mental dan karakter anak.
“Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh tiga hal utama: pola pikir (mindset), mentalitas, dan misi yang jelas. Tanpa sinergi antara guru di sekolah dan orang tua di rumah, kebijakan untuk menghapus kekerasan di sekolah hanya akan menjadi formalitas belaka,” tegas Bupati.
Upacara yang diikuti oleh jajaran ASN dan pelajar berpakaian adat nusantara. (mel)





















