MANOKWARI,KLIKPAPUA.com- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manokwari terus berupaya menekan angka penularan penyakit tuberkulosis (TBC) yang masih tergolong tinggi di wilayah tersebut.
Sepanjang 2026, tercatat 245 kasus TBC sensitif obat (SO) dan 9 kasus TBC resisten obat (RO) berhasil terdeteksi.
Plt Kepala Dinkes Manokwari, Marthen Rantetampang, mengatakan kunci utama dalam menekan penularan TBC adalah kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan serta penerapan protokol kesehatan secara mandiri.
“Pasien yang sudah terdiagnosis harus menjaga agar tidak menularkan ke orang lain, minimal di dalam rumah. Gunakan masker dan, bila memungkinkan, tidak tidur bersama anggota keluarga,” ujarnya di Manokwari, Selasa (7/4/2026).
Menurut Marthen, pemahaman masyarakat mengenai cara penularan TBC menjadi faktor penting dalam upaya pengendalian penyakit tersebut.
Ia menegaskan, TBC bukan penyakit yang bisa dianggap remeh karena dapat merusak kondisi tubuh secara perlahan jika tidak ditangani dengan benar.
Ia mengibaratkan kewaspadaan terhadap TBC seperti saat pandemi COVID-19, di mana penggunaan masker dan penerapan etika batuk menjadi langkah utama untuk melindungi orang di sekitar dari paparan bakteri.
Selain itu, Marthen menyoroti bahaya TBC resisten obat yang umumnya disebabkan oleh ketidakteraturan pasien dalam mengonsumsi obat.
Pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya berisiko membuat bakteri TBC menjadi kebal terhadap obat.
“Jika pengobatan tidak teratur, kuman bisa menjadi resisten. Ini berbahaya karena pengobatan selanjutnya akan jauh lebih sulit,” jelasnya.
Untuk menjamin ketersediaan obat, Dinkes Manokwari melakukan sejumlah langkah antisipatif, di antaranya menjalin kerja sama antar daerah dengan meminjam stok obat dari kabupaten terdekat serta memanfaatkan stok penyangga dari provinsi untuk kebutuhan hingga tiga bulan.
Marthen menambahkan, tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) terus meningkatkan upaya skrining guna menemukan kasus TBC lebih dini.
“Semakin banyak kasus ditemukan, semakin cepat kita obati dan putus rantai penularannya. Yang terpenting, logistik obat harus selalu tersedia agar upaya pencegahan berjalan optimal,” katanya. (mel)





















