Pembangunan Infrastruktur Diharapkan Mampu Lepaskan Pegaf dari Kemiskinan

0
290
Kepala Bappeda Kabupaten Pegaf, Irianto Jatmiko.

PEGAF,KLIKPAPUA.COM– Pembangunan infrastruktur yang sedang dikerjakan pemerintah saat ini diharapkan dapat melepaskan daerah itu dari belenggu kemiskinan. Peryataan itu disampaikan Kepala Bappeda Pegunungan Arfak, Jatmiko Irianto, Rabu (17/7/2019).

Untuk diketahui dari data yang dikeluarkan BPS Manokwari pada akhir tahun 2018 lalu, Kabupaten Pegaf masih  menjadi daerah termiskin di wilayah  Papua Barat. Tingkat kemiskinan di daerah ini mencapai 39,23 persen.

Saat ini pembangunan jalan utama menuju Distrik Anggi yang merupakan ibukota kabupaten sudah diambil alih oleh Provinsi Papua Barat.

Rencananya pembangunan jalan Manokwari-Pegaf dan Mansel-Pegaf akan rampung pada tahun 2022 atau pembangunan masih akan dilakukan dalam tiga tahun mendatang.

Sementara itu jalan yang menghubungkan distrik dan kampung masih menjadi tanggung jawab pemerintah setempat.

Kabupaten Pegaf merupakan daerah yang di karuniai Tuhan YME dengan potensi alam yang melimpah. Panorama alam dua danau di daerah ini, siap memanjakan mata para wisatawan yang mengunjungi daerah ini.

Selain itu, pertanian juga menjadi salah satu sektor unggulan. Namun akses keterbukaan jalan, masih menjadi kendala utama yang dihadapi oleh pemerintah setempat dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada.

“Permasalah yang utama dihadapi dipegaf saat ini adalah keterbukaan isolasi ibukota provinsi ke Anggi. Kalau sudah ditingkatkan, roda perekonomian dan pemerintahan akan berjalan dengan baik,” kata Jatmiko di Distrik Anggi.

Jalan dan jembatan merupakan infrastruktur dasar yang lebih dibutuhkan masyarakat di 10 distrik dan 166 kampung di daerah ini.

Terlebih lagi masyarakat setempat yang berlatar belakang sebagai petani, tentu perlu akses darat untuk memasarkan hasil bumi mereka. Untuk menjual hasil pertanian, Petani sering kali mengeluhkan biaya transportasi (sewa mobil) yang tinggi.

Jatmiko mencontohkan,  para petani di distrik Anggi, mereka harus mengeluarkan ongkos Rp. 1,5 juta (sewa kendaraan) untuk memasarkan hasil kebunnya. Sementara di distrik testega, warga setempat harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 3 juta untuk dapat memasarkan hasil pertanian mereka di Manokwari.

Karakteristik petani di Pegaf merupakan petani tradisional yang memanfaatkan area pekarangan rumah. Para warga hanya memanfaatkan tanah seluas kurang dari 1/2 hektar, sehingga skala produksi dari petani masih kecil. “Untuk menjual hasil kebun, Petani mengeluhkan cost yang tinggi, karena biaya sewa mobil lebih besar dari pada hasil kebun jika di uangkan,” ungkapnya.

Dengan pembangunan infrastruktur dasar yang terus dikerjakan oleh pemerintah daerah kabupaten pegaf bersama pemerintah provinsi Papua barat saat ini, diharapkan roda perekonomian masyarakat setempat dapat berjalan dengan baik, sehingga  setiap tahunnya penduduk miskin di daerah ini dapat berkurang. “Tentu kita berharap pembangunan jalan dan jembatan segera terselesaikan, demi lancarnya roda perekonomian disini,” harap Jatmiko.

Pembangunan infrastruktur umum dan infrastruktur dasar merupakan pekerjaan rumah dari pemerintah setempat.  Apalagi pembangunan jalan dan jembatan merupakan visi/misi bupati/wakil terpilih pada pilkada serentak tahun 2015 lalu.(rsl)

Editor: BUSTAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.