Fraksi Otsus Minta Ada Perguruan Tinggi di Teluk Wondama

0
37
MANOKWARI,KLIKPAPUA.com–  Masyarakat Adat di Teluk Wondama, mendesak untuk didirikannya sebuah perguruan tinggi di daerah tersebut. Ketiadaan perguruan tinggi di Teluk Wondama, membuat banyak lulusan SMA yang memilih tidak kuliah karena keterbatasan biaya.
“Selama ini kami punya anak-anak kalau mau kuliah harus keluar daerah. Belum tentu orang tua mereka bisa membiayai kalau harus keluar daerah. Makanya ada permintaan dari masyarakat untuk mendirikan perguruan tinggi di Teluk Wondama,” ujar Anggota DPR PB Fraksi Otsus, Yan Yoteni, belum lama ini.
Yoteni mengungkapkan, dari data yang diberikan Lembaga Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta  Papua dan Papua Barat Wilayah 14, jumlah lulusan mencapai hampir 100 ribu orang. Namun dari jumlah tersebut, hanya 11 persen yang bisa diserap di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. “Dari data yang saya dapat, di seluruh Tanah Papua ada 70 perguruan tinggi. 7 perguruan tinggi negeri dan sisanya adalah swasta. Karena ada aspirasi dari masyarakat di Teluk Wondama untuk mendirikan perguruan tinggi, makanya akan kita perjuangkan,” tutur Yoteni.
Menurut dia, selain bertemu Kepala Lembaga Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta  Papua dan Papua Barat Wilayah 14,  Yoteni juga telah bertemu dengan tim kajian perguruan tinggi di UNIPA. Sebab salah satu syarat pendirian perguruan tinggi adalah adanya kajian akademik terkait fokus maupun bidang ilmu dari kampus tersebut. “Tim sekarang sedang bekerja menyusun matriks untuk menyusun kajian akademik. Kita berharap tidak terlalu lama mereka sudah menyusun kajian tersebut,” kata Yoteni.
Desakan masyarakat terkait pendirian perguruan tinggi, lanjut Yoteni, bukan tanpa alasan. Sebab Teluk Wondama, menurut dia, adalah awal mula peradaban di Tanah Papua. “Orang pertama kali mengenal huruf dari Teluk Wondama. Sehingga sudah seharusnya ada perguruan tinggi di sana,” tutup Yoteni. (dar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.