MANOKWARI,KLIKPAPUA.com– Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat, Merry, menyatakan inflasi tahunan atau year on year (yoy) di Provinsi Papua Barat pada April 2026 mencapai 5 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,30.
Hal itu disampaikan dalam rilis resmi di Aula BPS Papua Barat, Senin (4/5/2026).
Menurut Merry, inflasi yoy tertinggi terjadi pada kelompok transportasi sebesar 12,09 persen, sementara deflasi terdalam terjadi pada kelompok pendidikan sebesar 3,99 persen.
Selain itu, Papua Barat juga mengalami inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 2,00 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 1,41 persen.
Ia menjelaskan, penyumbang utama inflasi April 2026 secara mtm di Papua Barat berasal dari kelompok transportasi dengan andil sebesar 1,30 persen.
“Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah angkutan udara, angkutan laut, dan solar,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Provinsi Papua Barat Daya, di mana kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,37 persen, didorong oleh komoditas angkutan udara, angkutan laut, dan solar.
Sementara itu, secara tahunan, penyumbang utama inflasi di Papua Barat berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 2,22 persen.
Komoditas utama pada kelompok ini antara lain beras, ikan layang (momar), dan tomat.
Adapun di Papua Barat Daya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang utama inflasi tahunan dengan andil yang sama, yakni 2,22 persen.
“Komoditas penyumbang utama di antaranya ikan tuna dan ikan kembung,” kata Merry.
BPS mencatat, perkembangan harga komoditas kebutuhan pokok dan transportasi masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi laju inflasi di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya. (dra)




















