Tekan Kasus Malaria dan DBD, Dinkes Kaimana Latih Pengelola Program Puskesmas

0

KAIMANA,KLIKPAPUA.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Kaimana memperkuat kapasitas pengelola program malaria dan kesehatan lingkungan Puskesmas melalui Pelatihan Survelens dan Pengendalian Vektor Binatang Pembawa Penyakit bagi tenaga Entomolog di Grand Papua Hotel, Senin (5/10/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan dari tanggal 5-10 Oktober 2026 itu, dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kaimana, Jubair Rumakat didampingi Kasi P2, Hotbel Marbun dan Narasumber dari Balai Pelatihan Kesehatan Makasar, Armitha Muchtar.

“Pelatihan ini merupakan upaya untuk menekan kasus malaria dan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kaimana serta mendukung target eliminasi malaria pada tahun 2030 mendatang, ”bebernya.

Ia menegaskan pengendalian vektor menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai penularan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk maupun vektor lainnya.

Menurutnya, peserta pelatihan dibekali kemampuan mengidentifikasi jenis vektor secara tepat, melakukan surveilans dan pemantauan kepadatan vektor serta menerapkan metode pengendalian yang aman dan efektif.

“Petugas harus mampu mengenali jenis vektor dan habitatnya sehingga pengendalian yang dilakukan benar-benar tepat sasaran, termasuk bagaimana menghadapi resistensi terhadap insektisida serta penanganan ketika terjadi peningkatan kasus atau wabah,” ucapnya.

Jubair menjelaskan, Kabupaten Kaimana saat ini berada pada kategori sedang untuk kasus malaria dengan Annual Parasite Incidence (API) sebesar 4,27 dari 336 kasus positif malaria terhitung dari bulan Januari hingga September 2026.

“Kondisi tersebut membutuhkan upaya berkelanjutan dari seluruh Puskesmas melalui pengendalian dengan menyesuaikan karakteristik vektor dan kondisi wilayah,” tuturnya.

Kata Jubair, upaya yang dilakukan pihaknya antara lain penebaran ikan pemakan jentik, penyemprotan dinding rumah atau Indoor Residual Spraying (IRS), terutama di wilayah dengan kasus tinggi, sementara untuk DBD, pengendalian dilakukan melalui pemberian bubuk abate untuk membasmi jentik nyamuk Aedes aegypti pada tempat penampungan air.

Selain itu, pemberian kelambu menjadi salah satu strategi pencegahan malaria, terutama bagi ibu hamil dan balita di wilayah endemis tinggi. Namun, distribusi kelambu dilakukan berdasarkan prioritas karena ketersediaan stok dari pemerintah pusat masih terbatas.

Jubair menambahkan bahwa pihaknya telah menyusun draf Peraturan Daerah tentang AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (ATM) sebagai bagian dari dukungan terhadap program eliminasi penyakit di Kabupaten Kaimana.

“Target kita adalah eliminasi malaria pada tahun 2030, melalui penguatan SDM serta penurunan kasus yang dilakukan secara bertahap,” pungkasnya.(lau)


Komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses