MANOKWARI,KLIKPAPUA.com– Kepergian mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Barat periode 2014–2022, Dr. Nataniel Dominggus Mandacan, meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan pengabdian yang dinilai akan terus hidup dalam perjalanan pembangunan Papua Barat.
Hal itu ditegaskan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, saat memimpin upacara persemayaman dan penghormatan terakhir kepada almarhum di rumah duka, Jalan Swapen Bahari, Manokwari, Senin (6/7/2026), sebelum dimakamkan di Taman Makam Bahagia, Sanggeng.
Dalam sambutannya, Gubernur menyebut almarhum bukan hanya seorang birokrat, tetapi juga putra terbaik Arfak yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk melayani masyarakat, daerah, bangsa, dan negara dengan penuh integritas serta tanggung jawab.
Karena itu, kepergian Nataniel Mandacan menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi Pemerintah Provinsi Papua Barat dan masyarakat luas.
“Melalui upacara persemayaman yang dilaksanakan secara kedinasan, kita memberikan penghormatan terakhir kepada seorang putra terbaik Arfak, seorang aparatur sipil negara yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk melayani masyarakat, daerah, bangsa, dan negara dengan penuh dedikasi, integritas, dan tanggung jawab,” ujar Dominggus.
Menurut Gubernur, selama mengemban berbagai jabatan pemerintahan, almarhum meninggalkan jejak kepemimpinan melalui kebijakan, inovasi, dan gagasan yang hingga kini masih menjadi bagian dari pembangunan Papua Barat.
Warisan tersebut, katanya, tidak berhenti seiring kepergian almarhum, melainkan akan terus hidup melalui sistem pelayanan pemerintahan dan semangat pengabdian yang telah ditanamkan kepada generasi penerus.
Dominggus juga mengenang Nataniel Mandacan sebagai sosok pemimpin yang memandang jabatan sebagai amanah untuk melayani.
Almarhum dikenal dekat dengan masyarakat, membuka ruang dialog, mendengar berbagai persoalan, serta mengedepankan solusi yang menjaga persatuan di tengah keberagaman Papua Barat. Sebagai tokoh adat, ia juga berperan penting dalam merawat nilai budaya dan menjadi penengah dalam berbagai persoalan kemasyarakatan.
“Warisan terbesar yang beliau tinggalkan bukan hanya berupa bangunan, dokumen ataupun kebijakan, melainkan keteladanan hidup, integritas, loyalitas, kerendahan hati, semangat melayani, dan kecintaan yang begitu besar kepada masyarakat Papua Barat,” kata Gubernur.
Karena itu, Gubernur mengajak seluruh aparatur sipil negara menjadikan dedikasi almarhum sebagai teladan dalam menjalankan tugas pemerintahan.
Ia menegaskan jabatan harus dimaknai sebagai kesempatan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, sebagaimana dicontohkan almarhum selama mengabdi.
Prosesi penghormatan terakhir berlangsung khidmat. Setelah upacara persemayaman dan ibadah pelepasan di rumah duka, jenazah diberangkatkan menuju Taman Makam Bahagia, Sanggeng, untuk dimakamkan secara kedinasan. (dra)





















