MANOKWARI,KLIKPAPUA.com – Kontingen Sulawesi Tengah menjadi peserta pertama yang tampil pada kategori Musik Gerejawi Nusantara dalam Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Jumat (26/6/2026).
Penampilan ini memukau penonton lewat perpaduan budaya Poso dan Papua melalui musik, busana, serta pesan lagu yang dibawakan di hadapan dewan juri.
Sesuai ketentuan perlombaan, kontingen Sulawesi Tengah membawakan dua lagu, yakni lagu wajib Puin Palaburu dan lagu pilihan terikat Cinoko Injil Manokwari. Kedua lagu ini dipilih untuk menggambarkan nilai iman sekaligus kekayaan budaya Nusantara.
Pelatih kontingen Sulawesi Tengah, Yulius Istarto, menjelaskan bahwa Puin Palaburu merupakan lagu etnis Pamona, Kabupaten Poso, yang mengisahkan perjalanan hidup manusia dengan segala keterbatasannya.
“Lagu ini menggambarkan bahwa dalam setiap pergumulan hidup, Tuhan tetap menjadi sumber pengharapan dan penuntun perjalanan manusia,” ujar Yulius usai penampilan.
Sementara itu, lagu Cinoko Injil Manokwari dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada Papua Barat selaku tuan rumah Pesparawi Nasional XIV. Melalui lagu ini, mereka ingin menyampaikan pesan bahwa Manokwari sebagai Kota Injil terus menjadi sumber berkat bagi banyak orang.
Menurut Yulius, perpaduan budaya tersebut tidak hanya dituangkan melalui nada, tetapi juga tercermin dari konsep busana yang dikenakan para peserta. Motif pakaian mengangkat identitas etnis Pamona, sedangkan ornamen bulu pada mahkota menjadi representasi simbolis budaya Papua.
“Kami mencoba memadukan budaya Poso dan Papua dalam satu penampilan, sehingga keduanya dapat menyatu tanpa menghilangkan identitas masing-masing,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, persiapan matang telah dilakukan sejak Februari 2026. Meski waktu latihan terbilang singkat, proses pendalaman materi, riset budaya, hingga penyesuaian kostum menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh tim.
Yulius menilai kategori Musik Gerejawi Nusantara membutuhkan persiapan yang jauh lebih mendalam. Sebab, peserta tidak hanya dituntut mampu bernyanyi dengan teknik yang tepat, tetapi juga harus memahami nilai filosofis budaya yang diangkat.
“Kami berharap persembahan lagu ini dapat menjadi berkat bagi semua yang mendengarkan. Soal hasil perlombaan tentu kami serahkan kepada dewan juri, yang terpenting kami sudah memberikan persembahan terbaik,” tandasnya.(mel)





















