
MANOKWARI,KLIKPAPUA.com – Universitas Papua (UNIPA) resmi mengukuhkan Profesor Dr. Hugo Warami sebagai Guru Besar bidang Linguistik Antropologi dan Linguistik Forensik. Pengukuhan berlangsung di Aula UNIPA, Manokwari, Rabu (14/1/2026).
Sekretaris Senat Akademik UNIPA, Prof. Jhoni Marwa, mengatakan pengukuhan tersebut menjadi tonggak penting bagi pengembangan akademik UNIPA sekaligus penguatan ilmu linguistik di Tanah Papua.
Menurut Prof. Jhoni Marwa, pengukuhan Prof. Hugo Warami memiliki empat makna strategis. Pertama, menandai kesiapan Fakultas Sastra dan Budaya UNIPA dalam melahirkan Guru Besar, menyusul fakultas lain yang lebih dahulu memiliki profesor.
Kedua, pengukuhan ini bernilai historis karena Prof. Hugo Warami tidak hanya berstatus sebagai dosen, tetapi juga menjabat sebagai Rektor Universitas Papua.
“Ini merupakan kebanggaan institusi dan bukti bahwa kepemimpinan akademik di UNIPA dibangun di atas fondasi keilmuan yang kuat,” ujar Prof. Jhoni Marwa.
Ketiga, pengukuhan tersebut menambah jumlah Guru Besar Orang Asli Papua (OAP) menjadi lima orang, yakni Prof. Frans Wanggai, Prof. Jacob Manusawai, Prof. Sepus Fatem, Prof. Jhoni Marwa, dan Prof. Hugo Warami.
Keempat, pengukuhan ini juga memiliki nilai historis karena Surat Keputusan penetapan Guru Besar Prof. Hugo Warami ditetapkan pada 10 Oktober 2022, bertepatan dengan rangkaian peringatan Satu Abad Peradaban Orang Asli Papua.
Prof. Jhoni Marwa menyampaikan, hingga peringatan 25 tahun Universitas Papua pada 3 November 2025, UNIPA telah memiliki 26 Guru Besar dari berbagai bidang keilmuan.
Rinciannya meliputi bidang pendidikan dan teknologi tiga orang, pertanian enam orang, kehutanan delapan orang, peternakan empat orang, teknik dua orang, teknologi pertanian dua orang, serta bidang pendidikan lainnya satu orang. Dari jumlah tersebut, tiga Guru Besar merupakan perempuan.
Ia menilai bidang linguistik antropologi dan linguistik forensik memiliki relevansi yang kuat di Papua yang dikenal memiliki keragaman bahasa dan budaya yang tinggi.
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penyimpan pengetahuan lokal, identitas sosial, dan sistem nilai masyarakat.
“Linguistik antropologi berperan penting dalam mendokumentasikan dan melestarikan kekayaan budaya Papua, sementara linguistik forensik berkontribusi dalam penegakan hukum melalui analisis bahasa secara ilmiah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Jhoni Marwa menegaskan bahwa pengukuhan Guru Besar merupakan puncak dari proses akademik yang panjang dan ketat, meliputi penilaian karya ilmiah, rekam jejak pengajaran, serta pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, pengukuhan Prof. Hugo Warami merupakan bentuk pengakuan institusional atas kapasitas keilmuan, integritas akademik, dan konsistensi pengabdian.
Ia berharap pengukuhan ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan akademisi Papua bahwa capaian akademik tertinggi dapat diraih melalui ketekunan, disiplin, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan.
“Universitas Papua tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai ruang produksi pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi pembangunan Papua dan Indonesia,” pungkasnya. (dra)




















