Belajar peradaban dari jalur sutra di Asia Tengah

0
Asia Tengah banyak menjadi preferensi wisata saat ini. (ANTARA/HO-Cheriatna)
JAKARTA – Dalam beberapa tahun terakhir, ada tren yang berubah pada preferensi berwisata masyarakat di Indonesia.
Rupanya ada semakin banyak orang yang tidak lagi sekadar mencari tujuan wisata yang indah, tetapi juga menginginkan pengalaman dengan makna yang lebih mendalam. Ditunjang dengan kuliner yang halal.
Mereka ingin mengetahui kisah di balik sebuah kota tua, memahami bagaimana suatu masyarakat berkembang, dan mengenal nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia ternyata semakin menyadari perjalanan dapat menjadi bagian dari proses belajar sepanjang hayat.
Salah satu kawasan yang banyak menjadi pilihan justru semacam hidden gem yang di masa lampau tidak menjadi preferensi utama, seperti misalnya Asia Tengah.
Wilayah seperti empat -tan, meliputi Uzbekistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, dan Tajikistan, mulai diminati karena ada kecenderungan wisatawan ingin menemukan sesuatu yang berbeda.
Faktanya negeri empat -tan memang menawarkan panorama pegunungan, danau, ngarai, dan padang rumput yang memukau.
Lebih dari itu, kawasan ini menyimpan jejak penting sejarah peradaban Islam dan menjadi bagian dari Jalur Sutra, jaringan perdagangan kuno yang selama berabad-abad menghubungkan Timur dan Barat.
Jalur Sutra sering dipahami sebagai jalur perdagangan rempah-rempah, kain, atau barang berharga lainnya. Padahal, bukan hanya komoditas ekonomi yang melewati jalur itu, melainkan juga ilmu pengetahuan, teknologi, seni, bahasa, hingga gagasan yang membentuk perkembangan peradaban manusia.
Berwisata bisa sekaligus menjadi sarana belajar tentang kemajuan sebuah bangsa yang lahir dari keterbukaan terhadap ilmu dan pertukaran budaya.
Di Uzbekistan, misalnya, wisatawan dapat melihat bagaimana satu wilayah pernah menjadi pusat intelektual dunia Islam. Kota Samarkand dan Bukhara berkembang menjadi pusat pendidikan, kebudayaan, dan sains pada masa Dinasti Timuriyah.
Kemegahan Registan Square yang dihiasi mozaik biru bukan sekadar karya arsitektur indah, melainkan simbol kejayaan tradisi keilmuan yang pernah menginspirasi dunia.
Dari tanah Uzbekistan pula lahir Imam Bukhari, ulama besar yang dikenal sebagai penyusun kitab hadits paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
Kawasan Asia Tengah juga melahirkan ilmuwan besar, seperti Al-Khawarizmi, pelopor aljabar yang gagasannya menjadi fondasi perkembangan matematika modern.
Banyak orang mungkin menggunakan teknologi digital setiap hari tanpa menyadari bahwa akar ilmu yang menopang berbagai inovasi tersebut lahir dari pemikiran para ilmuwan Muslim berabad-abad silam.
Kesadaran semacam inilah yang kini banyak dianggap penting oleh masyarakat di Indonesia yang memilih negeri empat -tan menjadi tujuan wisata.
Peradaban besar
Konsepnya, mengenal sejarah bukan cuma untuk bernostalgia terhadap masa lalu, tapi juga untuk memahami bahwa peradaban besar dibangun melalui budaya belajar, kerja keras, keterbukaan berpikir, dan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan.
Nilai-nilai tersebut tetap relevan bagi bangsa mana pun yang ingin terus maju.
Perjalanan ke Tajikistan juga menghadirkan pelajaran berbeda. Islam masuk ke wilayah ini sejak abad ketujuh dan kemudian berasimilasi dengan budaya Persia yang kaya akan sastra, filsafat, dan tradisi intelektual.
Dari kawasan ini lahir banyak penyair, filusuf, dan tokoh sufi yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan akal dan kebeningan hati.
Keindahan Seven Lakes atau Tujuh Danau menjadi bukti bagaimana alam mampu menghadirkan keindahan yang tak habis untuk dilukiskan.
Perbedaan warna pada tujuh danau itu memberi pengalaman visual yang kuat juga mengingatkan pengunjung tentang kekayaan bentang alam yang perlu dijaga.
Ketika seseorang berada di tengah bentang alam seperti itu, maka akan timbul rasa kagum dan kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta yang begitu luas.
Sementara di Kazakhstan, wisatawan bisa menyaksikan bagaimana Islam berkembang melalui proses akulturasi yang damai bersama budaya masyarakat nomaden di kawasan stepa sejak abad kedelapan.
Hingga kini, negara tersebut berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi syariah yang cukup maju di Asia Tengah, sekaligus memiliki ribuan masjid yang berdiri berdampingan dengan wajah modern sebuah negara yang terus berkembang.
Di Kazakhstan juga ada Charyn Canyon, sebuah ngarai megah yang sering dijuluki Grand Canyon-nya Asia Tengah.
Lanskap alam seperti ini mengajarkan bahwa kekayaan dunia Islam tidak hanya hadir dalam bentuk bangunan bersejarah, tetapi juga melalui bentang alam yang menunjukkan kebesaran Sang Pencipta dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Adapun Kyrgyzstan memberikan pelajaran mengenai hubungan harmonis antara manusia, alam, dan sejarah perdagangan dunia. Negara ini pernah menjadi titik transit penting para saudagar Muslim di Jalur Sutra.
Perjalanan melintasi pegunungan menuju Ala Archa National Park memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat mampu hidup berdampingan dengan alam secara sederhana, namun penuh penghormatan.
Sungai yang jernih, padang rumput yang luas, dan puncak salju yang menjulang menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan dalam kehidupan perkotaan yang serba cepat.
Pengalaman seperti itu memiliki nilai yang jauh melampaui aktivitas berwisata biasa. Ketika seseorang memahami sejarah satu tempat, maka ia akan lebih menghargai warisan budaya dunia.
Ketika seseorang mengenal masyarakat yang berbeda, ia juga akan lebih mudah membangun sikap saling menghormati. Dan ketika seseorang menyaksikan langsung keindahan alam yang masih terjaga, ia akan semakin sadar bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Makna luas
Bagi Indonesia, negara yang memiliki keragaman budaya dan penduduk Muslim terbesar di dunia, pengalaman belajar dari berbagai peradaban juga memiliki makna luas.
Semakin banyak masyarakat Indonesia mengenal sejarah dunia secara langsung, semakin terbuka pula cara pandang terhadap pentingnya toleransi, dialog antarbudaya, dan kerja sama antarbangsa.
Wisata dapat menjadi jembatan diplomasi masyarakat yang memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa ramah, terbuka, dan menghargai keberagaman.
Perjalanan wisata sejarah itu semakin bermakna ketika juga memperhatikan kebutuhan dasar wisatawan Muslim sebagai mayoritas wisatawan di Indonesia, seperti ketersediaan makanan halal, kemudahan menjalankan ibadah, serta lingkungan yang ramah bagi keluarga, anak-anak, maupun lanjut usia.
Kehadiran fasilitas tersebut bukan sekadar memberikan rasa nyaman, tetapi juga memungkinkan seseorang menjalani perjalanan tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang diyakininya.
Wisata yang inklusif pada akhirnya memberi kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk belajar dari dunia.
Oleh karena itu memilih layanan travel yang tepat juga sangat berpengaruh saat merancang rencana berwisata, termasuk biro perjalanan yang memang memahami dan memiliki layanan khusus untuk wisata sejarah.
Dengan berperjalanan ke Asia Tengah, maka ini akan mengingatkan tentang ilmu pengetahuan, perdagangan, budaya, dan spiritualitas yang pernah berjalan beriringan membangun satu peradaban yang memberi pengaruh besar bagi dunia.
Sebagai bangsa yang juga memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya luar biasa, masyarakat Indonesia dapat mengambil inspirasi bahwa kemajuan hanya dapat dicapai melalui semangat belajar, penghargaan terhadap ilmu, keterbukaan terhadap perbedaan, dan kesediaan menjaga warisan peradaban untuk generasi mendatang.
Dengan cara itulah perjalanan bisa menjadi sarana belajar yang memperkaya cara pandang seseorang terhadap dunia.(ANTARA)
*) Cheriatna adalah Ketua Umum Asosiasi Travel Halal Indonesia (ATHIN); founder Cheria Holiday.

Komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses