MANOKWARI,KLIKPAPUA.com — Universitas Gadjah Mada (UGM), RMIT University, dan Universitas Papua (UNIPA) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dan workshop Program Riset KONEKSI di Mansinam Beach Resort Hotel, Manokwari, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan ini membahas pengembangan jaringan listrik mikro (microgrid) berbasis energi terbarukan untuk Papua Barat, dengan Kampung Yende, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, sebagai lokasi studi utama.
Salah satu wujud nyata dari riset ini adalah rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kampung Yende.
Listrik yang dihasilkan akan digunakan untuk mengoperasikan mesin pembuat es, sehingga masyarakat dapat menyimpan dan menangani hasil tangkapan ikan dengan lebih baik — mengingat wilayah tersebut memiliki potensi sumber daya ikan yang melimpah namun selama ini terkendala keterbatasan akses listrik.
Riset ini juga menekankan aspek GEDSI — kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial. Perempuan, pemuda, penyandang disabilitas, dan kelompok masyarakat lainnya direncanakan terlibat aktif dalam perencanaan sekaligus memperoleh manfaat langsung dari akses energi dan kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan.
Dalam sesi khusus Kampung Yende, peneliti UNIPA, Dr. Ir. Elias Kondorura Bawan, S.T., M.Eng., bersama Antonius D. Palintin, S.T., M.Sc., memaparkan kondisi dan kebutuhan energi masyarakat setempat.
Kegiatan dihadiri oleh anggota Dewan Kabupaten Teluk Wondama, Alberth Manauw, serta pemangku kepentingan dari berbagai instansi terkait.
Proyek bertajuk “Roadmap and Community Microgrid for Bridging the Energy and Business Access Gap in Papua Island” didukung oleh Pemerintah Australia melalui DFAT, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta LPDP melalui program kemitraan KONEKSI. Selain membangun fasilitas di Kampung Yende, riset ini juga menyusun peta jalan pengembangan energi terbarukan yang lebih luas di Papua Barat.
Prof. Dr. Eng. Ir. F. Danang Wijaya dari UGM dan Dr. Inam Nutkani dari RMIT University memaparkan pengalaman serta perbandingan penerapan sistem serupa di berbagai wilayah. Hasil diskusi dan masukan peserta akan menjadi dasar penyempurnaan desain, rencana pengelolaan, serta layanan yang inklusif bagi masyarakat Kampung Yende.(rls/red)





















