Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 14 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan koordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Papua Barat, Selasa (22/9/2026).
MANOKWARI,KLIKPAPUA.com — Implementasi pengembangan energi terbarukan di kawasan transmigrasi tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga pemahaman terhadap kondisi dan pengalaman implementasi di lapangan.
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 14 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan koordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Papua Barat, Selasa (22/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Program TEP ITS Tahun 2026 di Kabupaten Manokwari Selatan.
Koordinasi yang berlangsung di Kantor Dinas ESDM Provinsi Papua Barat tersebut dilakukan oleh anggota tim. Pertemuan ini menjadi langkah penting dalam mendukung program pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid dengan kapasitas 5 kWp untuk mesin pengering padi yang tengah dikembangkan di Distrik Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat.
Dalam pertemuan tersebut, TEP 14 ITS menggali sejumlah informasi teknis yang dibutuhkan dalam perencanaan dan pengembangan sistem PLTS. Data yang menjadi perhatian meliputi lokasi penempatan PLTS, penggunaan PLTS di Manokwari Selatan, kapasitas sistem yang telah terpasang, hingga metode pemeliharaan PLTS yang telah diterapkan di lapangan.
Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Papua Barat, Sefnat Baru, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah memiliki pengalaman dalam pemasangan PLTS dengan berbagai kapasitas. “Kami telah memasang PLTS dengan kapasitas terbesar sekitar 15 kWp,” jelasnya.
Selain pembangunan sistem, aspek pengelolaan dan keberlanjutan infrastruktur juga menjadi perhatian. Sefnat menerangkan bahwa PLTS komunal atau terpusat yang telah dibangun kemudian dihibahkan kepada pihak pengelola agar status dan pengelolaan aset dapat dilakukan secara jelas.
“Untuk PLTS komunal atau terpusat itu langsung kita hibahkan ke Pemerintah Daerah untuk dikelola, supaya tidak ada aset yang menggantung kita, kemudian diserahterimakan,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu informasi penting bagi TEP 14 ITS dalam memahami pola pengelolaan PLTS di Papua Barat. Tidak hanya berkaitan dengan kapasitas pembangkitan, informasi mengenai pemeliharaan juga menjadi pertimbangan agar sistem yang nantinya diterapkan dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Menurut Sefnat, pemeliharaan PLTS yang telah diterapkan dilakukan secara manual, salah satunya melalui kegiatan pembersihan panel. “Perawatan PLTS dilakukan secara manual dengan cuci lap basah atau secara alami menggunakan air hujan. Perawatan dilakukan selama kurang lebih dua tahun sekali,” tuturnya.
Rangkaian koordinasi antara TEP 14 ITS dan Dinas ESDM diharapkan dapat memperkuat basis data dan pemahaman teknis sebelum sistem PLTS diterapkan. Informasi mengenai kapasitas, lokasi, pola pemanfaatan, serta pemeliharaan PLTS menjadi bahan penting untuk menyusun rancangan yang sesuai dengan karakteristik kebutuhan masyarakat dan kondisi kawasan.
Program ini merupakan bagian dari upaya TEP 14 ITS untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan sebagai solusi kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Sebelumnya, tim merancang penerapan PLTS off-grid berkapasitas 5 kWp sebagai sumber energi mandiri untuk mendukung mesin pengering padi berkapasitas dua ton di Oransbari.
Melalui sinergi dengan Dinas ESDM, pengembangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur energi. Sistem yang dirancang dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan energi mandiri yang mendukung aktivitas pertanian dan pengelolaan pascapanen masyarakat. Bagi TEP 14 ITS, setiap data yang dihimpun dari lapangan menjadi pijakan untuk memastikan teknologi yang diterapkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi.(rls/red)