Tim Ekspedisi Patriot 14 ITS bersama Pemateri PLTS, Plt Kepala Distrik, Kepala Kampung, dan Masyarakat Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat dalam Acara Sosialisasi dan Pelatihan PLTS di Balai Kampung Margorukun (19/10/2026).
ORANSBARI,KLIKPAPUA.com–Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus mendorong pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung produktivitas pertanian masyarakat. Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 14 ITS Tahun 2026, sosialisasi dan pelatihan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) digelar di Balai Kampung Margorukun, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, Senin (19/10/2026).
Kegiatan yang dipimpin oleh anggota Tim Ekspedisi Patriot 14 ITS ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi terbarukan. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung penerapan PLTS off-grid yang diintegrasikan dengan mesin pengering padi untuk menjawab tantangan pengeringan hasil panen, khususnya saat musim hujan.
Penerapan teknologi ini dirancang untuk membantu petani mengeringkan gabah secara lebih terkontrol, sehingga mutu hasil panen dapat dipertahankan. Pasalnya, proses pengeringan yang terkendala cuaca berpotensi mempengaruhi kualitas gabah dan beras yang dihasilkan. Kehadiran teknologi pendukung ini diharapkan dapat membuka peluang peningkatan nilai jual hasil pertanian masyarakat setempat.
Kenalkan Teknologi PLTS untuk Mendukung Pertanian
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan prinsip kerja PLTS, fungsi komponen utama, serta manfaat penerapannya dalam menunjang kebutuhan energi produktif. Pemateri pertama, Elok Faizatul Hikmah, menjelaskan bahwa PLTS bekerja dengan mengubah energi matahari menjadi energi listrik melalui sejumlah komponen yang saling terintegrasi.
“Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah pengubahan energi listrik dari sinar matahari diubah menjadi energi listrik menggunakan peralatan berupa inverter, baterai, charge controller dan juga lain-lain,” jelasnya.
PLTS yang direncanakan untuk mendukung mesin pengering padi di Kampung Margorukun memiliki kapasitas terpasang sebesar 5 kilowatt-peak (kWp) atau setara 5.000 watt daya puncak, dengan konfigurasi sembilan panel fotovoltaik (photovoltaic/PV). Sistem tersebut diperuntukkan bagi operasional mesin pengering padi berkapasitas hingga dua ton.
Melalui penerapan PLTS off-grid, sistem dirancang untuk memasok kebutuhan listrik secara mandiri tanpa bergantung langsung pada jaringan listrik umum. Integrasi tersebut diharapkan menjadi alternatif pendukung kegiatan pascapanen, terutama ketika cuaca kurang mendukung proses pengeringan secara konvensional.
Bekali Masyarakat dengan Keterampilan Perawatan
Tidak hanya mengenalkan teknologi, pelatihan ini juga membahas pengoperasian, pemeliharaan, dan aspek keselamatan PLTS. Peserta memperoleh penjelasan mengenai pembersihan panel surya, pemeriksaan komponen secara berkala, penggunaan energi sesuai kapasitas sistem, hingga penanganan awal ketika terjadi gangguan.
Elok menjelaskan bahwa pemeliharaan berkala diperlukan untuk menjaga kinerja komponen PLTS. Pemeriksaan dapat mencakup kebersihan panel, kondisi inverter, serta kabel dan konektor yang menghubungkan setiap komponen.
Sementara itu, pemateri kedua, Volta Amcos Kusuma, menekankan pentingnya menjaga kebersihan panel surya karena komponen tersebut menjadi bagian utama dalam proses penangkapan energi matahari.
Pemateri, Elok Faizatul Hikmah dan Volta Amcos Kusuma sedang memberikan materi tentang PLTS kepada Warga Oransbari di Acara Sosialisasi dan Pelatihan PLTS di Balai Kampung Margorukun (19/10/2026).
“Panel PV harus dibersihkan secara berkala, ya. Jadi membersihkan panel yang di PV itu harus dilakukan berkala, karena apa? Itu sumber dari semua energi di PLTS itu sendiri,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan beban listrik sesuai kapasitas sistem dan melakukan pemeriksaan rutin. Pemeriksaan harian dapat mencakup status baterai, sedangkan pembersihan panel dan pemeriksaan komponen lainnya dilakukan sesuai kebutuhan serta rekomendasi teknis. Pemeriksaan internal yang berisiko, terutama pada bagian kelistrikan, perlu ditangani teknisi yang kompeten.
Dari sisi keselamatan, masyarakat diimbau untuk menjauh dan mengamankan diri apabila menemukan percikan api atau tanda gangguan berbahaya pada instalasi. Penanganan lebih lanjut harus dilakukan oleh petugas yang memiliki kompetensi sesuai prosedur keselamatan.
Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting bagi masyarakat agar pemanfaatan PLTS tidak berhenti pada pemasangan perangkat, tetapi juga didukung kemampuan pengelolaan dan pemeliharaan yang berkelanjutan.
Sinergi Kampung untuk Meningkatkan Mutu Beras
Pelaksanaan kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pemerintah distrik dan pemerintah kampung. Plt Kepala Distrik Oransbari, I Gede Wisnu Wardana, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan yang dinilai memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis kepada masyarakat.
“Kami atas nama pemerintah Distrik Oransbari menyambut baik dan memberikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya sosialisasi dan pelatihan ini. Ini bukan hanya sekadar memberikan pemahaman teori, namun juga membekali kita dengan keterampilan praktis bagaimana cara merencanakan, memasang, dan merawat sistem PLTS secara mandiri,” tuturnya.
Dukungan serupa disampaikan Kepala Kampung Margorukun, Sudarmaji. Menurutnya, pemanfaatan PLTS dan mesin pengering padi dapat disinergikan dengan program pembangunan kampung, terutama melalui pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sinergi tersebut diharapkan memperkuat upaya peningkatan mutu beras sekaligus memberikan nilai tambah bagi hasil pertanian masyarakat.
“Kita ingin meningkatkan mutu dari beras warga petani di Kampung Margorukun khususnya dan warga Oransbari pada umumnya, sehingga beras yang dihasilkan di Oransbari ini mutunya bisa naik dan ujung terakhirnya hasil atau harganya juga bisa naik,” ungkap Sudarmaji.
Bagi petani, peningkatan mutu beras bukan sekadar persoalan teknis pengolahan hasil panen. Kualitas yang lebih terjaga berpotensi meningkatkan daya saing produk di pasar. Meski demikian, dampak terhadap harga dan pendapatan akan bergantung pada hasil pengeringan, kualitas beras, biaya operasional, serta kondisi pemasaran.
Salah seorang warga Kampung Margorukun, Imam Mudowi, turut mengapresiasi program yang dilaksanakan oleh Tim Ekspedisi Patriot 14 ITS. Ia berharap pemanfaatan teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain.
“Alhamdulillah, kami selaku warga sangat mengapresiasi, sangat senang, sangat bangga. Insyaallah mudah-mudahan tahun-tahun ke depan bisa mendapatkan program termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS ini. Bisa sama-sama menikmati, sama-sama merasakan, sama-sama mendapatkan program dari pemerintah yang kesemuanya itu untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dorong Pertanian Berkelanjutan melalui Energi Terbarukan
Pelatihan dan penerapan PLTS untuk mendukung mesin pengering padi di Kampung Margorukun sejalan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satunya adalah SDG 7, yakni Energi Bersih dan Terjangkau, melalui pengenalan serta pemanfaatan energi surya untuk kegiatan produktif masyarakat.
Melalui Tim Ekspedisi Patriot 14, ITS berupaya menghadirkan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Keberhasilan penerapannya ke depan akan ditentukan oleh kesiapan operasional, pemeliharaan perangkat, pengelolaan bersama, dan evaluasi manfaat bagi petani.
Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah setempat, dan masyarakat, pemanfaatan energi surya diharapkan menjadi langkah nyata menuju pertanian yang lebih tangguh menghadapi perubahan cuaca, peningkatan mutu beras, serta penguatan kesejahteraan petani di Oransbari.(rls/red)