Situs Sejarah Orang Kuri Hancur, Masyarat Adat Werbete Minta Dinas Kehutanan PB dan PT Wijaya Sentosa Bertanggungjawab

0
212

MANOKWARI,KLIKPAPUA.com- Salah satu situs sejarah orang Kuri yang dinamakan kabung fefrase atau telaga awan telah hancur akibat adanya aktifitas penebangan kayu PT Wijaya Sentosa (PT WS). Penebangan Kayu bulat dengan ukuran bervariasi telah ditebang dari tempat keramat ini sejak Tanggal 14 Mei 2022.

“Kabung fefrase merupakan telaga yang diyakini oleh orang Kuri adalah tempat bersejarah dimana terdapat satu pohon sagu yang berada di tengah telaga, pohon sagu tersebut tidak tinggi, tidak besar hanya begitu saja,” ungkap Yoordan Werfete, tokoh marga Werfete dalam siaran pers yang dikirimkan ke klikpapua.com, Selasa  (17/5/2022).

Selanjutnya selaku Pemuda Adat Kuri sekaligus anak sulung dari Yacob werbete (Petuanan Marga Werbete) Sander Werbete menyampaikan, bahwa kabung fefrase sejak dulu diyakini moyang mereka sebagai telaga yang berpindah-pindah, sehingga susah mencari telaga tersebut, oleh karena itu mereka meyakini bahwa tempat tersebut merupakan tempat sakral masyarakat.

Sander Werbete mengaku telah melakukan pemalangan di wilayah tempat sejarah kabung fefrase tempat yang dianggap sakral tersebut pada Senin (16/5/2022).” Aksi palang yang kami lakukan karena komitmen PT WS yang mereka tulis (komitmen perlindungan kawasan Nilai Konservati Tinggi atau NKT) ternyata tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan l, makanya kami sebagai petuanan bertindak sesuai aturan adat yang berlaku,” ungkap Sander.

Selain itu, sebagai masyarakat mereka merasa ditipu, sehingga aksi pemalangan dilakukan agar hak-hak masyarakat yang menurut Sander, telah digelapkan maka Dinas Kehutanan Papua Barat dan perusahaan harus menyelesaikan.

Niklas Werfete, pemuda adat Kuri menambahkan tahun 2022 dirinya ikut bersama perusahaan untuk melakukan pengecetan wilayah sakral (tata batas) di kabung fefrase dan sudah menandai batas tersebut, tapi saat ini menurut dia, perusahaan PT WS telah melanggar batas  dengan menebang dan membuat jalan logging di dalam wilayah yang dianggap keramat.

“Perempuan adat Kuri, Magdalena Riensawa dan Ana Riensawa yang tinggal di Kampung Wagen (wilayah penebangan PT WS) turut merasakan dampak akibat hadirnya aktifitas perusahaan PT WS. Dimana dulunya kali itu air jernih, ketika perusahaan melakukan pembongkaran, ketika hujan maka air kabur sehingga susah untuk kami gunakan untuk minum, masak bahkan mencari ikan,” tandasnya.

Lebih lanjut Roy Masyewi, selaku pemuda adat berdarah Kuri menyampaikan seluruh perwakilan masyarakat adat dari Marga Werbete dan keluarga meminta untuk Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat dan PT WS menginisiasi segera dilakukan pertemuan yang mengundang perwakilan masyarakat adat marga werbete.

Pertemuan nantinya mereka meminta tempat pertemuan tidak dilakukan di lokasi perusahaan PT WS, dan meminta tempat yang netral seperti di Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat di Manokwari, agar proses pertemuan dapat berjalan dengan baik.

Selain itu terkait waktu pertemuan masyarakat mengusulkan untuk dapat dilakukan pertemuan pada pekan ini karena masyarakat menyampaikan bahwa palang tidak bisa dibuka jika tidak ada pertemuan.

“Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat dan PT WS diharapkan mengeluarkan undangan resmi dan tertulis kepada masyarakat di kampung. Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat dan PT WS juga diharapkan dapat mendukung biaya kepada masyarakat untuk sampai di Manokwari dalam rangka pertemuan, namun biaya tersebut harus diberikan kepada masyarakat dan biarkan masyarakat yang membayarkan sendiri kebutahannya seperti pembayaran transportasi dan penginapan di Manokwari, ini bertujuan untuk menjaga netralitas karena kerap terjadi ketika pertemuan, masyarakat selalu kalah karena perusahaan yang memfasilitasi secara langsung kebutuhan masyarakat bukan masyarakat yang dipercayakan,” pungkasnya.(rls/aa)

SPACE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.